JAKARTA (BP) – Laga Timnas Indonesia melawan Arab Saudi di bawah asuhan Patrick Kluivert menyisakan banyak pertanyaan, dari kebuntuan build-up hingga minimnya respons taktis. Dilansir dari kanal youtube Tommy Desky, pada Jumat (10/10).
Struktur build-up Timnas Indonesia dinilai sangat kaku, terutama ketika pemain Arab Saudi melakukan asymmetrical pressure, mengubah struktur pertahanan mereka dari 4-1-4-1 menjadi 4-4-2 untuk menekan pertahanan Timnas Indonesia.
Tekanan dilakukan lawan bersifat melengkung, bertujuan untuk mengarahkan orientasi lebih ke dalam, sehingga opsi passing menuju fullback sebelah kiri menjadi sangat minimalis, membuat serangan bertubi-tubi mengarah ke sektor kanan.
Selain itu, fase penyerangan Timnas Indonesia terus-menerus dilakukan di sektor kanan, membuat pola permainan menjadi monoton, mudah dibaca lawan dan minim variasi kreativitas.
Arab Saudi bahkan dinilai sangat detail membaca Timnas, termasuk mengetahui fakta teknis bahwa kedua bek tengah sama-sama berkaki kanan yang seharusnya sudah dikalkulasi penuh oleh tim pelatih Kluivert.
Patrick Kluivert secara eksplisit mengakui para pemain timnas Indonesia tidak menjaga ruang antar lini dengan baik, sehingga pemain sayap lawan mudah memanfaatkan celah.
”Waktu latihan tim kurang cukup, dan dinilai kontraproduktif karena saya berani melakukan perubahan sistem dari tiga bek menjadi empat bek tanpa persiapan memadai,” ungkap Kluivert, dikutip kanal YoutlTube Timnas Indonesia, pada Rabu (8/10).
Pengakuan ini menunjukkan adanya problematika serius pada struktur pertahanan dan koordinasi tim di level krusial, apalagi dalam sepak bola elit modern, ruang sekecil apa pun sangat dijaga, namun Timnas justru memberikan ruang yang bebas.
Jika waktu sempit, seharusnya Timnas tetap mengaplikasikan sistem tiga bek sambil memvariasikan elemen lain, bukan mengubah struktur dasar pertahanan yang sangat berisiko di level kompetisi tertinggi.
Secara keseluruhan, penampilan Timnas Indonesia saat melawan Arab Saudi dinilai tidak mencerminkan yang terbaik dan terlihat kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan di atas lapangan.
Ketiadaan solusi dan pengakuan tentang masalah ruang antar lini serta kurangnya waktu latihan menunjukkan bahwa ada masalah dalam kalkulasi dan perencanaan taktis sejak awal. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : JAMIL QASIM