Buka konten ini

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, Jalan Bintan berdiri tegak sebagai saksi bisu sejarah Tanjungpinang. Pendek memang jalannya, tapi panjang kisahnya. Mulai tentang perdagangan, budaya, dan kehidupan yang berdenyut di masa lalu. Di sini, langkah seolah membawa siapa pun menyeberang ke abad 19.
JALAN legendaris ini dikenal sebagai jalan utama terpendek di Tanjungpinang. Lintasan singkat itu juga dikelilingi jalan utama lainnya di kawasan Kota Lama Tanjungpinang yakni Jalan Masjid, Jalan Yusuf Kahar dan Jalan Merdeka.
Meskipun lintasan singkat, jalan ini menyimpan kisah panjang historis (sejarah). Jalan Legendaris ini tetap menggambarkan suasana tempo dulu di Kota Gurindam.
Di balik pendeknya bentangan jalan legendaris di Kota Lama Tanjungpinang itu, tersimpan kisah panjang dan aroma hingga nafas klasik yang tak lekang oleh zaman. Setiap sudut di Jalan Bintan, mencerminkan suasana Tanjungpinang tempo dulu.
Nafas klasik dan suasana tempo dulu itu makin terasa saat melihat berdirinya bangunan bergaya kolonial yang kokoh hingga rumah warga dan toko-toko tua yang masih mempertahankan corak tempo dulu.
Jalan itu bernama Jalan Bintan. Satu jalan legendaris yang berada di Batu Nol (Titik Nol Kilometer) kawasan Kota Lama Tanjungpinang. Dikenal sebagai jalan utama terpendek di seantero Kota Tanjungpinang. Panjangnya hanya sekitar 200 meter.
Menurut catatan sejarah, sejak tempo dulu, Jalan Bintan telah menjadi urat nadi perniagaan dan perdagangan. Tempat lalu-lalang para pedagang lokal dan Eropa hingga pelaut serta masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Kepulauan Riau (Kepri).
Dahulu hingga kini, Jalan Bintan menjadi telah poros utama menuju sejumlah pelabuhan rakyat tempat kapal-kapal kayu bersandar membawa hasil bumi, ikan dan rempah-rempah.
Meskipun kini suasananya lebih tenang, pesona klasiknya tetap terasa. Bangunan-bangunan tua di kiri kanan jalan dengan jendela kayu berdaun lebar dan cat yang mulai pudar, justru menambah pesona nostalgia bagi siapa pun yang melintas di Jalan Bintan.
Di beberapa titik di Jalan Bintan, aroma kopi dari kedai tua bercampur dengan kuliner khas, berpadu sehingga menciptakan suasana yang klasik dan suasana penuh kenangan.
Meski diklaim sebagai jalan utama terpendek di Tanjungpinang, Jalan Bintan bukan sekadar ukuran panjang, melainkan tentang suasana klasik yang tidak hilang ditelan zaman.
Jalan Bintan yang legendaris ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kota Tanjungpinang dan telah menjadi bagian dari denyut nadi awal perkembangan kawasan Kota Lama Tanjungpinang.
Bagi sebagian warga, Jalan Bintan hanyalah ruas jalan pendek yang menghubungkan dua simpang. Tapi bagi warga tua Tanjungpinang, jalan ini ibarat lorong waktu. Tempat di mana tempo dulu dan masa kini masih bisa berjalan beriringan dalam langkah yang hanya sepanjang 200 meter, namun berisi sejuta kenangan.
Kini, pihak berwenang tengah berupaya menjaga karakter klasik kawasan ini agar tidak hilang digerus modernisasi dan pembangunan modern. Upaya penataan jalan harus dilakukan dengan tetap mempertahankan nuansa klasik yang menjadi identitas Kota Lama Tanjungpinang.
Jejak Jalan Bintan dalam Kenangan
Peneliti Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman, mengatakan, Jalan Bintan sepanjang lebih kurang 200 meter ini, kini masuk dalam kawasan Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Dahulunya, kata Dedi, tempat ini bernama Kampung Bintan yang terletak di kawasan Kota Lama Tanjungpinang. Sebelumnya, lanjut Dedi, kampung tersebut bernama Bentan yang berarti salah makan pada perempuan.
Dedi menerangkan, salah makan itu terjadi pada perempuan hamil. Sehingga dari kejadian ini, masyarakat yang terlahir pada abad 19 (tahun 1800-an), menyebut nama Bentan. Kemudian muncullah nama Bintan yang akhirnya menjadi nama kampung dan dinobatkan sebagai nama jalan di Kota Lama Tanjungpinang.
“Masjid Agung Al Hikmah (Masjid Keling) sudah ada sejak tahun 1834 dan Jalan Bintan tentu juga sudah ada sebelumnya,” ucap Dedi, Senin (6/10).
Menurutnya, pada abad 19 saat kolonial menguasai Tanjungpinang, pihak pemerintah kolonial akan membangun kantor-kantor pemerintah, tempat ibadah, sekaligus membangun jalan-jalan utama di kawasan kekuasaannya.
“Jadi Jalan Bintan dan jalan utama lain di kawasan Kota Lama itu sudah ada sejak abad 19 silam,” ungkap Dedi.
Jalan Bintan juga menjadi kawasan perniagaan dan perdagangan tempo dulu. Jalur pendek itu merupakan tempat melintas para pedagang lokal, Eropa dan Asia yang singgah berdagang di Tanjungpinang.
“Jalan Bintan juga menjadi jalur lalu-lalang pedagang menuju pelabuhan yang ada di kawasan Kota Lama Tanjungpinang,” katanya.
Dedi menambahkan, pihak pemerintah harus berupaya menjaga sejarah Jalan Bintan dan karakter klasik kawasan ini agar tidak hilang di tengah pembangunan modern.
“Jalan Bintan harus dipercantik lagi dengan tetap mempertahankan nuansa klasik yang menjadi identitas Kota Lama Tanjungpinang,” ujarnya. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : FISKA JUANDA