Buka konten ini

KAIRO (BP) – Perundingan damai hari kedua antara Israel dan Hamas di Resor Sharm El-Skeih, Kairo, Mesir, turut menyertakan negosiator dari Amerika Serikat (AS). Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, akan bergabung dalam perundingan.
Optimisme pun disuarakan oleh Presiden AS, Donald Trump. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dan Kepala Intelijen Turki, Ibrahim Kalin, disebut turut serta.
Dalam keterangan di Gedung Putih, Washington, Rabu (8/10), Trump mengaku mendapatkam sinyal positif.
”Saya pikir ada kemungkinan kita bisa mencapai perdamaian di Timur Tengah. Jika Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata, Amerika Serikat akan melakukan segala yang mungkin untuk memastikan semua pihak mematuhi kesepakatan,” bebernya seperti dilansir The Guardian.
Sementara itu, di Yerusalem, Perdana Menteri, Israel Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti berperang sampai seluruh tujuan perang tercapai.
”Kami berada di hari-hari yang menentukan,” katanya seperti dilansir dari AFP. Tujuan yang diinginkan Israel adalah mengembalikan seluruh sandera, menghapus kekuasaan Hamas, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.
Ingin Jaminan Langsung
Dari pihak Hamas, negosiator utama Khalil Al-Hayya mengatakan bahwa kelompoknya menginginkan jaminan langsung dari Trump dan negara-negara pendukung bahwa perang benar-benar akan berakhir. ”Hamas ingin kepastian bahwa ini bukan sekadar gencatan senjata sementara. Kami membutuhkan jaminan agar perang diakhiri sepenuhnya,” katanya.
Pejabat senior Hamas, Fawzi Barhoum, menyebut serangan 7 Oktober 2023 sebagai respons historis terhadap upaya Israel menghapus perjuangan Palestina. Dia menambahkan bahwa Hamas tengah mengurangi hambatan untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan di Mesir. Hamas juga menegaskan bahwa jadwal pembebasan sandera harus dikaitkan langsung dengan jadwal penarikan pasukan Israel.
AL Israel Kembali Sergap Kapal Kemanusiaan ke Gaza
Angkatan Laut (AL) Israel kembali menyergap kapal bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. Seperti dilaporkan Anadolu Agency, AL Israel menghentikan sembilan kapal Thousand Madleens milik Koalisi Armada Kebebasan (Freedom Flotilla Coalition/FFC) pada Rabu (8/10) dini hari. Pekan lalu, AL Israel menyergap 42 kapal dari Global Sumud Flotilla yang membawa 462 aktivis.
Penyergapan kemarin terjadi di perairan internasional, sekitar 120 mil laut (222 kilometer) dari Gaza. Siaran pers dari FFC menyebutkan, sembilan kapal yang ditumpangi 100 aktivis itu dihentikan dalam kurun waktu satu jam. Kesembilan kapal itu bernama Abd Elkarim Eid, Alaa Al-Najar, Anas Al-Sharif, Gaza Sunbird, Leila Khaled, Milad, Soul of My Soul, Um Saad, dan Conscience.
”Israel kembali melakukan kejahatan perang di perairan internasional. Militer Israel tidak memiliki yurisdiksi hukum atas perairan internasional. Armada kami tidak menimbulkan bahaya. Kami tidak akan berhenti,” begitu siaran pers FFC yang diunggah di media sosial X Sembilan kapal FFC itu kemudian dipindahkan ke pelabuhan Israel mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel di X seraya menambahkan bahwa mereka ”diharapkan segera dideportasi.”
Sembilan kapal tersebut dilaporkan membawa bantuan senilai lebih dari USD 110 ribu berupa obat-obatan, peralatan pernapasan, dan pasokan nutrisi untuk rumah sakit di Gaza. FFC, yang didirikan pada 2010, juga telah meluncurkan puluhan misi kemanusiaan di Jalur Gaza. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO