Buka konten ini

Ponsel mereka mungkin pintar, tapi sinyalnya tidak. Di Desa Pangkil, Kabupaten Bintan, warga masih harus mendaki bukit atau berjalan ke dermaga hanya untuk sekadar berkata, “Halo, apa kabar?” kepada keluarga di seberang pulau.
MATAHARI mulai meninggi ketika beberapa warga Desa Pangkil tampak berjalan menuju dermaga kayu di tepi laut. Di tangan mereka, ponsel digenggam tinggi-tinggi, seolah tengah mengejar sesuatu yang tak terlihat. “Di sini, sinyalnya dua bar. Kalau mundur sedikit, langsung hilang,” ujar Rajib sambil tersenyum getir.
Rajib, Ketua RT 09 Desa Pangkil, sudah hafal betul di mana titik-titik yang bisa menangkap sinyal telepon. Kadang di ujung dermaga, kadang di batu karang tak jauh dari bibir pantai, bahkan kadang di atas bukit kecil di belakang kampung. Di tempat-tempat itulah warga mencari koneksi untuk sekadar menelepon anak yang merantau, atau menerima kabar dari keluarga di luar pulau.
“Kalau mau nelepon, harus siap jalan. Kadang bawa kursi kecil, duduk di situ sambil tunggu sinyal muncul,” tutur Rajib.
Di era ketika hampir semua urusan—dari pekerjaan, sekolah, hingga pelayanan publik—bergantung pada jaringan internet, kehidupan di Pangkil seakan berjalan di antara dua dunia: modern, tapi masih terputus dari arus informasi global.
Sudah bertahun-tahun warga mengeluhkan lemahnya sinyal di wilayah mereka. Menurut Rajib, usulan pembangunan menara telekomunikasi telah beberapa kali diajukan kepada pemerintah dan operator jaringan. Lahan pun sudah disiapkan sebagai bentuk keseriusan warga. “Kami sudah siapkan lokasi hibah. Bahkan saya usulkan dibangun di atas bukit, biar jangkauannya lebih luas,” katanya penuh harap.
Harapan serupa datang dari Bujang, warga lain yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Ia bercerita, ketika melaut dan ingin mengabari keluarga, sinyal sering hilang total. “Kalau di laut, biasanya kosong. Jadi kalau ada kabar penting, harus ke darat dulu, cari tempat tinggi,” ujarnya. Di rumahnya, ponsel pintar lebih sering berubah jadi jam digital ketimbang alat komunikasi.
Desa Pangkil sebenarnya tidak sepenuhnya terisolasi. Ada jaringan wifi milik pribadi yang dipasang oleh warga dengan modal sendiri. Namun jangkauannya terbatas, dan biaya langganan terlalu mahal bagi sebagian besar penduduk. “Kalau ada tower, pasti semua terbantu. Kami bisa komunikasi lancar, bahkan anak-anak bisa belajar online,” ucap Bujang.
Kepala Desa Pangkil, Yahya, membenarkan bahwa masalah jaringan telekomunikasi ini sudah menjadi keluhan lama masyarakatnya. Ia menjelaskan, pihak desa pernah menyiapkan lahan hibah untuk pembangunan tower dari program pemerintah pusat, khususnya untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Sayangnya, rencana itu tak kunjung terealisasi. “Sudah beberapa kali diusulkan, bahkan sudah ada survei. Tapi sampai sekarang tidak jadi dibangun. Kami juga tidak tahu alasannya,” katanya.
Padahal, bagi warga pulau kecil seperti Pangkil, keberadaan sinyal bukan sekadar soal gaya hidup digital. Ini soal keterhubungan—dengan keluarga, dengan kabar, bahkan dengan keselamatan. Saat ada keadaan darurat, warga sering kesulitan menghubungi petugas atau keluarga di daratan. “Kadang ada warga sakit, mau minta pertolongan, tapi sinyal hilang.
Akhirnya harus naik motor ke pelabuhan dulu baru bisa nelepon,” tutur Yahya.
Sore itu, langit di atas Pangkil mulai memerah. Di kejauhan, beberapa anak muda terlihat duduk di bebatuan bukit sambil menatap layar ponsel, tertawa kecil setiap kali sinyal berhasil muncul sekejap. Di balik tawa mereka, tersimpan harapan sederhana: agar suatu hari, tak perlu lagi mendaki bukit hanya untuk berbicara dengan orang yang disayang. (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor : Galih Adi Saputro