Buka konten ini

SYDNEY (BP) – Suasana mencekam melanda kawasan Croydon Park, Sydney, Minggu (5/10) malam. Dilansir dari channelnewsasia.com, seorang pria berusia 60 tahun diduga melepaskan puluhan tembakan secara acak ke arah jalanan ramai, melukai 16 orang dan memicu kepanikan massal.
Polisi Australia kemudian mendakwa pria tersebut pada Senin (6/10) dengan 25 pasal berat, termasuk 18 tuduhan percobaan pembunuhan.
Kepolisian New South Wales menerima laporan adanya penembakan di wilayah Inner West Sydney setelah pelaku dilaporkan menembak dari rumahnya, menargetkan mobil-mobil yang melintas dan bahkan aparat kepolisian.
Puluhan personel kepolisian segera dikerahkan. Area disterilkan, akses jalan ditutup, hingga akhirnya pelaku berhasil dibekuk di rumahnya yang berada di atas sebuah tempat usaha. Dari lokasi kejadian, polisi menyita satu senapan dan sejumlah amunisi.
Seorang saksi mata, Joe Azar, yang bekerja di seberang lokasi kejadian, mengira suara tembakan yang ia dengar adalah kembang api. Namun, ia segera tersadar ketika melihat kaca depan mobil pecah dan kaca halte bus hancur berkeping-keping.
“Rasanya seperti di luar nalar. Saya baru sadar, ‘Oh, ini benar-benar terjadi.’ Semuanya berlangsung sangat cepat sampai saya tak sempat memproses apa yang sedang terjadi,” tutur Azar kepada The Sydney Morning Herald.
Awalnya, polisi memperkirakan 100 peluru ditembakkan dengan 20 orang terluka. Namun, setelah penyelidikan awal, angka itu direvisi menjadi sekitar 50 tembakan dan 16 korban luka.
“Selama 35 tahun saya di kepolisian, sangat jarang ada kasus di mana seseorang menembak secara acak ke arah orang-orang di jalan,” kata Stephen Parry, Pejabat Sementara Inspektur Kepolisian New South Wales.
Pelaku sempat mengalami luka ringan di sekitar mata saat penangkapan dan telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Ia tidak diberikan jaminan dan dijadwalkan menghadiri sidang perdana pada Selasa (7/10).
Sementara itu, satu korban datang sendiri ke rumah sakit dengan luka tembak, namun dipastikan tidak dalam kondisi kritis. Beberapa korban lainnya mengalami luka ringan akibat pecahan kaca mobil yang tertembus peluru.
Seperti Adegan Film
Motif pelaku masih belum diketahui. Namun, Kepolisian New South Wales memastikan tidak ada indikasi keterlibatan terorisme maupun kelompok geng kriminal.
“Tidak ada kaitan dengan aktivitas teror maupun geng,” ujar Komisaris Polisi Mal Lanyon kepada stasiun radio lokal 2GB. Salah satu saksi lainnya, Tadgh, menceritakan kepada ABC bahwa ia sedang menonton pertandingan rugby ketika suara tembakan terdengar.
“Suaranya keras sekali — ‘dor, dor, dor!’ Disusul kilatan cahaya, percikan api, dan asap. Benar-benar seperti adegan dalam film,” ungkapnya.
Penembakan massal seperti ini sangat jarang terjadi di Australia. Sejak tragedi Port Arthur, Tasmania, pada 1996 yang menewaskan 35 orang, negara itu telah melarang senjata otomatis dan semiotomatis.
Namun, kasus kekerasan bersenjata sesekali masih terjadi. Pada Agustus lalu, seorang pria bernama Dezi Freeman melarikan diri ke hutan setelah diduga menembak mati dua polisi dan hingga kini masih buron.
Sedangkan pada 2022, enam orang termasuk dua polisitewas dalam insiden penembakan di Wieambilla, Queensland. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG