Buka konten ini

Fakta penyakit jantung koroner (PJK) yang dicatat oleh World Health Organisation (WHO), bahwa penyakit jantung koroner penyebab nomor 1 kematian di seluruh dunia, setiap 3 detik di dunia ada yang meninggal karena PJK atau stroke. 1 dari 10 orang Indonesia meninggal karena PJK, atau sekitar 20 juta kasus dengan hampir 7,6 triliun total biaya pelayanan yang dihabiskan penyakit jantung dan terbanyak dari seluruh jenis penyakit di 2023.
Setiap tanggal 29 September, dunia memperingati Hari Jantung Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum global untuk mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan jantung.
Jantung adalah organ vital yang terdiri dari kumpulan otot yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Sehingga tubuh mendapatkan oksigen dan sari makanan yang diperlukan untuk metabolisme.
Jantung rata-rata berdenyut 72 kali setiap menitnya, 103.680 kali per hari, 37.843.200 kali per tahun. Jantung memompa 4 – 7 liter setiap menitnya, 5.760 – 10.080 liter per hari, 2.102.400 – 3.679.200 liter per tahun.
”Jantung memompa darah tanpa henti. Karena itu, setiap detak jantung adalah detik yang berharga,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Yuni Twiyarti, SpJP, FIHA.
Terkait data dari Dinas Kesehatan Kota Batam bahwa penyakit jantung menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Kota Batam. Dari Januari hingga Juli 2024, tercatat sebanyak 138 kasus warga Batam menderita penyakit jantung. Dari jumlah tersebut, sebanyak 89 pasien dinyatakan meninggal dunia.
Di mana, penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyebab utama kematian terkait jantung, terutama pada usia 45 tahun ke atas. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Batam, kini PJK semakin banyak ditemukan pada usia muda, bahkan 20-an tahun.
Menurut PERKI, tren ini sangat mengkhawatirkan mengingat penyakit jantung selama ini identik dengan usia lanjut. Seperti yang kita tahu bahwa penyakit jantung banyak jenisnya, selain penyakit jantung koroner, juga ada penyakit jantung katup, aritmia atau gangguan irama jantung, penyakit jantung bawaan, hingga penyakit jantung akibat hipertensi.
Menurut dr Yuni, penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung yang terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner di jantung yang dapat menyebabkan serangan jantung.
”Terjadinya gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena peyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner akibat kerusakan lapisan dinding pembuluh darah atau ateroskerosis,” jelasnya.
Proses terjadinya PJK, lanjut Yuni, sudah dimulai dari usia dini, dimana terjadi penyumbatan darah arteri melalui pola hidup yang kurang baik. Sehingga menjaga pola hidup sehat sejak usia dini akan menurunkan risiko terjadinya PJK.
Yuni mengatakan, faktor risiko PJK dibagi menjadi dua, yakni risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan risiko yang dapat dimodifikasi.
”Risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah umur, jenis kelamin, dan keturunan atau ras. Sedangkan risiko yang dapat dimodifikasi banyak. Antara lain merokok, dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, kurang aktivitas fisik, berat badan lebih dan obesitas, diet yang tidak sehat, stres, dan konsumsi alkohol berlebih,” tutur dokter berhijab ini.
Menurutnya, ada beberapa gejala penyakit jantung yang perlu diwaspadai, yaitu jantung berdebar-debar (palpitasi). ”Gejala jantung ini terasa seperti dada diremas-remas,” katanya.
Gejala lainnya berkeringat dingin dan perasaan mudah lelah, ada rasa mual dan muntah, sesak napas yang biasanya disertai dengan keringat dingin, pusing bahkan pingsan. ”Gejala selanjutnya nyeri dada sebelah kiri. Penderita biasanya merasakan sakit seperti ditimpa beban berat, rasa sakit dan perasaan seperti terjepit atau terbakar di dada,” beber Yuni.
Yuni mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika penderita serangan jantung dalam keadaan sadar: pertama, baringkan pasien dengan posisi setengah duduk dan segera bawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS terdekat. Kedua, hindari pasien dari berbagai aktivitas seperti banyak berbicara, batuk, dan mengejan. ”Yang utama segera bawa penderita ke IGD di rumah sakit terdekat.”
Kemudian, pertolongan pertama pada serangan jantung jika penderita tidak sadar, maka dilakukan 5 kegiatan, yaitu; segera telpon ke layanan 119 melalui telepon seluler maupun telepon rumah (gratis), lakukan pertolongan bantuan hidup dasar (resusitasi jantung paru) oleh tenaga medis atau orang awam terlatih, lakukan defibrilai menggunakan AED (automatic external defibrilation), segera bawa ke IGD di RS terdekat, serta lakukan bantuan hidup lanjut dan perawatan di RS.
Menurut Yuni, PJK bisa dicegah. Itu dapat dilakukan melalui upaya cek kesehatan secara rutin minimal satu kali setahun, sedangkan bagi yang sudah menderita satu kali sebulan. Kemudian enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik baik di rumah, tempat kerja maupun di perjalanan. ”Minimal 30 menit per hari, 5 hari per minggu atau 150 menit per minggu,” terangnya.
Yang tak kalah pentingnya yang harus dilakukan adalah diet sehat dengan kalori seimbang, dan membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak. Kemudian, istirahat cukup, tidur 7 sampai 8 jam atau minimal 6 jam per hari.
”Juga harus bisa kelola stres. Seimbang antara waktu untuk bekerja, istirahat, olahraga, rekreasi dan kegiatan sosial. Beribadah sesuai agama masing-masing dan bersikap terbuka dan berpikaran positif,” jelas dia.
Yuni menambahkan, deteksi dini penyakit jantung sangat dianjurkan pada orang-orang usia di atas 40 tahun, juga kelompok risiko tinggi seperti orang yang memiliki hipertensi dan diabetes. ”Skrining yang dapat dilakukan antara lain dengan rekam jantung, treadmill test, USG jantung, dan lain-lain,” ujarnya.
Terkait asupan diet pada PJK, Yuni memberi arahan seperti membatasi penggunaan garam bila ada hipertensi, pilihlah daging tanpa lemak atau ikan segar, ayam. ”Bagi yang terlalu gemuk, jumlah makanan pokok sebagai sumber hidrat arang dikurangi. Contoh sumber hidrat arang seperti beras, roti, mi, kentang, bihun, biskuit, tepung-tepungan, gula dan sebagainya,” sebutnya.
Diet selanjutnya adalah menghindari sayuran yang mengandung gas: kol, lobak, dan nangka muda. Hindari cabai dan bumbu yang merangsang, kurangi gorengan dan yang dimasak dengan santan kental, tidak minum kopi dan alkohol.
”Makanan yang sebaiknya dipilih yang mudah dicerna dan tidak merangsang. Semua buah boleh dimakan kecuali nangka masak, durian, dan kalau makan alpukat makan dalam jumlah terbatas,” ujarnya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : gustia benny