Buka konten ini
BATAM (BP) – Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II 2025 mencapai 7,14 persen, tertinggi di Sumatra dan peringkat keempat nasional. Capaian ini menegaskan posisi Kepri sebagai salah satu motor ekonomi Indonesia.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepri, Sinar Danandjaya, mengatakan, lonjakan tersebut tak lepas dari peran industri jasa keuangan. Ia mencatat pertumbuhan kredit bank umum di Kepri mencapai 12,26 persen year on year, juga yang tertinggi di Sumatra dan peringkat keempat nasional.
“Kondisi ini mencerminkan industri jasa keuangan di Kepri sangat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Sinar dalam Fin Expo dan Fin Run yang digelar Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Kepri di One Batam Mall, Jumat (3/10).
Meski demikian, tantangan besar masih menanti. Sinar menyoroti indeks inklusi keuangan nasional yang baru berada di level 80 persen. Pemerintah menargetkan angka itu naik menjadi 93 persen pada 2029 dan 98 persen pada 2045.
Di Kepri, kata Sinar, program pemerintah daerah seperti kredit tanpa bunga, pembiayaan UMKM, dan asuransi nelayan menjadi langkah nyata mendukung target tersebut.
“OJK bersama TPAKD di kabupaten atau kota siap mengawal peningkatan inklusi keuangan,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengatakan, pertumbuhan tinggi harus diiringi pemerataan.
“Lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu memberi dampak nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi harus stabil dan merata,” katanya.
Ansar juga memaparkan PDRB per kapita Kepri yang kini mendekati 11.000 dolar AS per tahun, menempatkan daerah ini sejajar dengan Brasil dan lebih tinggi dari rata-rata Thailand.
Dari sisi investasi, Kepri juga mencatat kinerja impresif. Tahun lalu, target Rp35 triliun berhasil terlampaui dengan capaian Rp47 triliun. Tahun ini, target Rp50 triliun, dan hingga triwulan II sudah terealisasi Rp30 triliun.
“Semua ini akan memberi multiplier effect bagi masyarakat. Tapi keberhasilan ekonomi tidak bisa dicapai pemerintah sendiri. Kolaborasi dengan industri jasa keuangan, pelaku usaha, dan masyarakat adalah kuncinya,” ujar Ansar. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : FISKA JUANDA