Minggu, 15 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Penyengat Gagal Jadi Warisan Dunia

Gunung Daik Diusulkan Jadi Pengganti

Gunung Daik Lingga

TANJUNGPINANG (BP) – Harapan besar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) agar Pulau Penyengat, Tanjungpinang, diakui sebagai Warisan Budaya Dunia kembali kandas. Sudah tiga kali Pulau Penyengat masuk daftar usulan, terakhir pada 2021 lalu, namun hingga kini belum pernah disetujui Unesco.

Di tengah kegagalan itu, muncul wacana baru. Ketua Dewan Pakar Ingatan Kolektif Nasional (IKON), Mukhlis Paeni, menyarankan agar Gunung Daik di Kabupaten Lingga dijadikan alternatif. Menurutnya, gunung yang dikenal bercabang tiga itu memiliki nilai sejarah, mitologi, sekaligus keindahan alam yang layak bersaing di level internasional.
“Saya menilai Gunung Daik, Lingga, lebih punya potensi untuk diusulkan menjadi warisan budaya dunia dari Provinsi Kepri,” kata Mukhlis saat ditemui di Tanjungpinang, Kamis (2/10).

Ia mencontohkan bagaimana Geopark Gunung Sewu di Yogyakarta bisa lolos ke daftar warisan dunia karena as­pek geologi, sejarah, dan ce­rita rakyat yang menyertainya.
Mukhlis menjelaskan, Gunung Daik tidak hanya indah, tetapi juga kaya kisah. Dalam tradisi Melayu, nama Gunung Daik berulang kali muncul dalam syair dan peribahasa klasik.

Bahkan masyarakat di Malaysia dan Singapura pun mengenalnya. Popularitas itu semakin menguatkan posisi Gunung Daik sebagai identitas budaya Melayu yang mendunia.
Selain itu, Gunung Daik juga erat kaitannya dengan perjalanan panjang Kerajaan Riau Lingga. Jika Pulau Penye­ngat hanya menjadi pusat kerajaan dalam waktu yang relatif singkat, maka Daik, Lingga menjadi tempat kerajaan itu bertahan lebih lama.

“Kerajaan Riau Lingga tidak bertahan lama di Pulau Penye­ngat, tetapi keberlangsungan kerajaan ini cukup panjang di Daik, Lingga,” ujarnya.
Mukhlis berharap, Pemerintah Provinsi Kepri tidak melewatkan peluang ini. Gunung Daik, dengan segala keistimewaannya, bisa diangkat sebagai simbol baru perjuangan kebudayaan Melayu di kancah internasional.

“Daerah ini kaya sejarah, jadi sayang kalau tidak ada identitas kuat yang bisa kita perjuangkan. Apalagi karya-karya era Kerajaan Riau Lingga sudah sangat mendunia,” tambahnya.

Gunung Daik sendiri sudah lama menancapkan namanya sebagai ikon budaya. Keindahan bentuknya yang bercabang tiga membuatnya kerap disebut dalam syair-syair Melayu lama.
“Pulau Pandan jauh ke tengah, Gunung Daik bercabang tiga, hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang juga.”

Bait syair legendaris itu membuat nama Gunung Daik abadi dalam ingatan kolektif masyarakat Melayu, bahkan hingga ke negeri jiran.
Popularitasnya tidak hanya dalam sastra. Pada 2017, Gunung Daik berhasil masuk lima besar dataran tinggi terpopuler di Indonesia dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) yang digelar Kementerian Pariwisata. Pengakuan itu memperkuat posisinya sebagai destinasi alam sekaligus warisan budaya yang layak diperjuangkan ke Unesco.
Sementara itu, kegagalan Pulau Penyengat menembus daftar warisan dunia menjadi catatan tersendiri. Pulau kecil yang terkenal sebagai

“Mas Kawin Engku Putri” itu memang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai pusat istana dan pemerintahan Raja-Raja Riau. Namun, hingga kini, berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah belum cukup kuat untuk meyakinkan Unesco.

Kini, bola ada di tangan Pemprov Kepri. Apakah tetap mencoba mendorong Pulau Penyengat, atau mulai beralih memperjuangkan Gunung Daik? Yang jelas, kedua situs ini sama-sama penting, namun Gunung Daik dinilai memiliki daya tawar lebih kuat karena menyatukan unsur alam, sejarah, mitologi, dan budaya. (*)

Reporter : Jailani
Editor : Mohammad Tahang