Buka konten ini
Dengan mendaftarkan diri Anda di Harian Batam Pos, Anda akan mendapatkan akses penuh ke seluruh konten.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat belum sepenuhnya berjalan mulus di Batam.
Sejumlah sekolah swasta, terutama yang bertaraf internasional, menolak ikut serta dalam program ini.
Ketua Koordinator Sub Penyelenggara Program Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, menyebut penolakan dilakukan berdasarkan kesepakatan pihak sekolah dengan orang tua murid. Mereka menilai kebutuhan gizi anak di sekolah tersebut sudah terpenuhi sesuai standar yang sama.
“Memang ada beberapa sekolah swasta, khususnya bertaraf internasional, yang menolak ikut program MBG,” ujar Defri, Kamis (2/10).
Menurutnya, program MBG di Batam menargetkan sekitar 300.200 anak dari jenjang negeri maupun swasta. Namun, hingga kini, capaian baru sekitar 188 ribu anak atau 62 persen dari target.
Dari sisi penyelenggara, sudah ada 74 dapur yang memperoleh Surat Keputusan (SK), dengan 59 di antaranya aktif menyalurkan makanan bergizi. Jumlah itu diharapkan terus bertambah seiring jalannya program.
Meski begitu, Defri tidak bisa memastikan jumlah sekolah yang menolak MBG. “Mayoritas sekolah internasional. Kalau negeri dan sebagian besar swasta lokal, program tetap berjalan,” jelasnya.
Sementara itu, pelaksanaan MBG di Batam juga diwarnai kasus dapur bermasalah. Dapur MBG Seipelenggut, Sagulung, resmi ditutup sejak Senin (29/9) usai 17 murid SDN 016 Seilekop mengalami mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu MBG pada Jumat (29/9).
Meski pihak rumah sakit menyebut gejala siswa tidak bisa langsung dikategorikan sebagai keracunan, SPPG Batam tetap melakukan evaluasi menyeluruh.
“Penutupan dapur dilakukan sesuai instruksi resmi dari deputi pemantauan dan pengawasan SPPG.
Dapur hanya bisa kembali beroperasi setelah hasil pemeriksaan makanan BPOM, sertifikasi sanitasi, uji kesehatan lingkungan, dan kualitas air keluar. Itu menjadi dasar apakah bisa dibuka kembali atau tidak,” jelas Defri.
Ia menambahkan, jika hasil pemeriksaan tidak memungkinkan dapur Seipelenggut beroperasi, sekolah penerima manfaat akan dialihkan ke dapur MBG lain. “Kalau harus tutup permanen, distribusi akan kita alihkan ke dapur terdekat agar program tetap berjalan,” katanya. Defri menegaskan, evaluasi mendalam kini berlaku bagi seluruh dapur MBG. Selain pemeriksaan kualitas makanan, aspek sanitasi, kebersihan air, dan kelayakan lingkungan menjadi prioritas.
“Tujuan program ini baik, yakni meningkatkan gizi siswa. Karena itu kami ingin memastikan keamanan dan kualitas makanan benar-benar terjamin,” pungkasnya. (***)
Reporter : Yashinta, / Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK