Buka konten ini
Pulau Penyengat dikenal luas sebagai pusat lahirnya para cendekiawan Melayu, salah satunya Raja Ali Haji. Namun, hingga kini karya-karya besar dari era Kerajaan Riau-Lingga itu belum masuk dalam daftar Ingatan Kolektif Nasional (IKON), apalagi dunia.
Ketua Dewan Pakar IKON, Mukhlis PaEni, menyebutkan ketiadaan manuskrip asli menjadi penghalang utama. Padahal, manuskrip merupakan syarat mutlak agar suatu karya bisa diakui sebagai warisan nasional maupun dunia.
“Sampai saat ini, tak satu pun karya cendekiawan Melayu Kepri, khususnya masa Kerajaan Riau-Lingga, yang ditetapkan sebagai warisan nasional,” ujarnya dalam kegiatan Penggalian Potensi Naskah Kuno Nusantara Sebagai IKON Nasional yang digelar Perpustakaan Nasional bersama Dinas Perpustakaan Pemprov Kepri di Tanjungpinang, Kamis (2/10).
Mukhlis menegaskan, karya para cendekiawan itu merupakan benda pustaka, bukan pusaka turun-temurun. “Setiap manuskrip ini seharusnya bisa diakses untuk ilmu pengetahuan, bukan hanya di bidang sastra, tapi juga pengobatan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, Raja Ali Haji melahirkan lebih dari 20 karya, salah satunya yang mendunia adalah Gurindam 12. Menurut Mukhlis, posisi karya tersebut sejajar dengan karya Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani yang sudah diakui sebagai IKON Nasional.
“Karya Raja Ali Haji harus masuk tahun ini sebagai IKON Nasional. Selanjutnya diusulkan ke UNESCO sebagai Memory of the World,” tegasnya.
Nada serupa disampaikan Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mu’jizah. Ia menilai Pulau Penyengat adalah pusat intelektual Melayu karena dari sinilah lahir banyak karya yang mendunia. “Selain Gurindam 12, karya Raja Ali Haji yang masyhur adalah Tuhfat Al-Nafis. Dari buku ini kita juga bisa mengetahui berbagai detail, misalnya jenis perahu pada masa itu,” paparnya.
Namun, ia mengingatkan, ketiadaan manuskrip asli menjadi tantangan besar. Sebagian manuskrip diketahui tersebar di Malaysia, Belanda, bahkan Inggris. “Inilah tantangan Provinsi Kepri untuk mengusulkan karya ini menjadi IKON Nasional, sebelum dilanjutkan ke level dunia,” kata Mu’jizah.
Kegiatan yang dihadiri budayawan, penulis, dan akademisi Kepri itu juga menghadirkan Rida K Liamsi dari Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepri, serta akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji, Anastasia Wiwik Swastiwi, yang sebelumnya peneliti sejarah BPNB Kepri. (***)
Reporter : JAILANI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO