Minggu, 15 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Orangtua Minta Evaluasi Total

Baru Satu Dapur Kantongi Sertifikat Laik Sehat

SAGULUNG (BP) – Kasus belasan murid SDN 016 Seilekop, Sagulung, yang mengalami mual, muntah, dan pusing usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (29/9) lalu, memicu kekhawatiran orangtua. Mereka meminta evaluasi total terhadap pelaksanaan program tersebut agar benar-benar aman, sehat, dan bermanfaat bagi anak-anak.

Sebanyak 17 murid sempat dilarikan ke IGD RSU Elisabeth Seilekop. Namun, pihak rumah sakit memastikan tidak ada perawatan khusus maupun pemeriksaan laboratorium. Para murid hanya menjalani observasi singkat sekitar 30 menit sebelum dipulangkan. Meski demikian, dapur MBG Seipelenggut yang menyalurkan makanan ke sepuluh sekolah langsung dihentikan sementara.

Lina, salah seorang wali murid, menilai program MBG merupakan langkah baik untuk menunjang gizi anak sekolah.
Namun, ia menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap dapur penyedia makanan.
“Kami setuju dengan program ini, tapi harus dipastikan kualitasnya. Jangan sampai anak-anak sakit setelah makan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Yudi, wali murid lainnya di Batuaji. Ia menegaskan perlunya pengawasan menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga proses memasak.
“Menu yang diberikan harus higienis, bergizi, dan terjamin. Kalau ada masalah, berarti memang perlu pembenahan besar-besaran,” tegasnya.

Orangtua juga berharap pemerintah tidak sekadar menghentikan dapur bermasalah, melainkan memberikan tindak lanjut yang jelas. Mereka percaya program MBG tetap bisa berjalan baik jika evaluasi dilakukan serius.

Selain soal higienitas, orangtua juga menyoroti pemilihan menu. Mereka menilai ada makanan yang mungkin tidak cocok dengan kebiasaan anak-anak sehingga menimbulkan keluhan kesehatan.
“Kalau bisa menunya sederhana tapi sehat, yang biasa dikonsumsi anak-anak sehari-hari,” kata Rani, orangtua murid di Sagulung.

Hingga kini, koordinator SPPG Batam belum memberikan keterangan resmi terkait evaluasi. Sejumlah dapur MBG di Sagulung pun masih terpantau tutup tanpa aktivitas.
“Program ini bagus dan harus berlanjut. Tapi jangan sampai menimbulkan masalah lagi. Anak-anak harus jadi prioritas,” tutup Yudi.

188 Ribu Warga Batam Terima Makan Bergizi Gratis
Sebanyak 188.742 warga Batam tercatat sebagai penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Layanan ini disalurkan melalui 59 dapur aktif dari total 74 dapur yang sudah memiliki SK, meski sebagian masih menunggu verifikasi.

Ketua Koordinator Sub Penye­lenggara Program Gizi (SPPG) Kota Batam, Defri Frenaldi, menjelaskan 74 dapur yang terdaftar sebelumnya sudah melewati pendaftaran daring dan proses administrasi. Namun, sekitar 40 dapur masih dalam tahap verifikasi dan evaluasi.

“Dari jumlah tersebut, baru satu dapur yang memiliki sertifikat laik sehat higiene sanitasi pangan (LSHS). Kami terus mendorong dapur lain segera melengkapi syarat,” ujar Defri.
Menurutnya, dapur-dapur MBG tersebar di hampir semua kecamatan. Namun, wilayah hinterland seperti Galang, Bulang, dan Belakang Padang belum terjangkau karena keterbatasan fasilitas.

Defri menargetkan penerima manfaat di Batam bisa mencapai 300.200 orang. Saat ini, mayoritas penerima berasal dari sekolah, mulai PAUD hingga SMA, serta posyandu.
Berdasarkan data per 20 September 2025, penerima MBG terdiri atas 73 PAUD, 156 SD, 91 SMP, 55 SMA/SMK, dan 1 SLB. Untuk jalur pendidikan nonformal, ada 11 RA/TK, 12 MI, 13 MTs, 5 MA, serta 47 posyandu.

Penyaluran dilakukan setiap Senin hingga Jumat di sekolah, sedangkan posyandu mendapat jatah dua kali sepekan, yakni Selasa dan Kamis. “Jumlah posyandu memang masih sedikit, tapi ini akan terus berkembang,” kata Defri.

Dari sisi operasional, setiap SPPG atau investor wajib menyiapkan 3.000–4.000 porsi per hari. Untuk itu, mereka harus menyiapkan modal besar, rata-rata mencapai Rp1,5 miliar untuk membangun dapur, menggaji karyawan, hingga membeli peralatan.

“Setiap penyelenggara punya kapasitas dan modal berbeda. Tapi syarat minimal harus mampu menyiapkan ribuan porsi per hari, dan memenuhi standar lainnya,” jelas Defri.
Ia menegaskan pihaknya tidak segan memberikan sanksi. “Sudah ada satu dapur yang kami tutup karena tidak memenuhi SOP,” ungkapnya.

Menurut Defri, pengawasan ketat menjadi kunci agar kualitas makanan terjaga. Apalagi, program ini menyasar anak sekolah dan balita yang membutuhkan asupan gizi seimbang.
“Harapan kami, program ini tidak hanya sekadar memberi makan, tetapi juga mendukung tumbuh kembang generasi Batam yang sehat dan cerdas,” pungkasnya. (*)

Reporter : Eusebius Sara, Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK