Buka konten ini
Sekitar 15 jam lamanya M. Sholeh berada di bawah reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo. Santri berusia 22 tahun itu sempat dievakuasi dalam kondisi hidup, namun kemudian mengembuskan napas terakhir di rumah sakit.
BAGIAN bawah tubuh M. Sholeh memang terlihat hancur ketika berhasil dievakuasi tim penyelamat dari reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin (30/9) pagi. Tapi, santri 22 tahun itu masih dalam kondisi hidup meski sudah tertimbun belasan jam.
Dan, itu sempat memercikkan harapan ke sepupunya, Khoirul. Pria 23 tahun tersebut semalaman menunggu proses evakuasi Sholeh yang, seperti dirinya, juga berasal dari Bangka Belitung.
”Masih hidup dan memang rencana akan dilakukan amputasi,” kata Khoirul kepada Jawa Pos yang menemuinya di IGD RSUD RT Notopuro Sidoarjo, kemarin (29/8).
Musala tiga lantai itu ambruk Senin (29/9) sekitar pukul 14.30, saat ratusan santri tengah Salat Asar berjamaah. Sebagian santri berhasil menyelamatkan diri. Sholeh yang sudah tiga tahun mondok di Al-Khoziny, termasuk yang tertimbun.
”Saya semalaman tak bisa tidur. Dia terjebak 15 jam, baru bisa dievakuasi sekitar jam 06.00 pagi tadi dan saya langsung ikut ke RSUD ini,” ucap Khoirul.
Tapi, palu godam menghantamnya di rumah sakit. Tepat pukul 09.30, dokter menyatakan
KALAU Sholeh meninggal dunia. Tangis Khoirul langsung pecah.
Kabar ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, didengar Khoirul saat sedang berkuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Begitu mendengar kabar tersebut, dia langsung bergegas ke Sidoarjo.
Sebab, Khoirul satu-satunya keluarga dekat Sholeh yang berada di Jawa Timur. Kedua orang tua Sholeh yang tinggal di Bangka sampai dengan kemarin masih dalam perjalanan ke Kota Udang.
Selama sama-sama menuntut ilmu di Jawa Timur, dia dan Sholeh beberapa kali bertemu saat waktu senggang. ”Kalau komunikasi intens jarang, karena ponsel kan diamankan (pihak ponpes). Dia hanya bisa mengakses alat komunikasi saat akhir pekan atau libur,” paparnya.
Khoirul belum tahu di mana sepupunya tersebut akan dimakamkan.”Masih menunggu orang tuanya datang,” katanya.
Menanti Kepastian
Kertas empat lembar itu dibaca Samsul Arifin dengan sangat hati-hati. Satu per satu 102 nama santri Al-Khoziny yang ada di dalamnya, baik yang sudah terevakuasi dalam kondisi selamat maupun yang meninggal dunia, dia baca. ”Nyari nama anak saya. Tapi, tidak ada di sini namanya,” ucap Samsul kepada JP GROUP yang menemuinya di posko informasi di Kampus II Al-Khoziny.
Samsul tiba di ponpes kemarin pagi dan seharian dihabiskan untuk mencari informasi tentang sang anak, Sholihan. Dia diduga menjadi salah seorang korban tertimbun reruntuhan musala ponpes yang belum terevakuasi.
Dari informasi yang dikumpulkan Samsul, putranya yang kini duduk di bangku kelas XII SMA tersebut pada Senin (29/9) lalu diketahui sempat akan mengikuti salat Asar berjamaah tapi batal. Anak pertamanya, Badruttamam, juga mondok di tempat yang sama dan sudah berhasil dia temui dalam keadaan selamat.
Anak pertamanya itu memang tergolong santri senior dan sudah diberdayakan sebagai guru pembantu di ponpes. ”Yang kedua ini yang masih belum tahu kondisinya,” sambung Samsul.
Dia mengaku, kali terakhir bertemu Sholihan pada libur pesantren awal September lalu, bertepatan dengan momentum perayaan Maulid Nabi 2025.
”Mudah-mudahan anak saua bisa segera ketemu dengan selamat,” harapnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : FISKA JUANDA