Bukan sekadar pemuda biasa. Berawal dari kegelisahannya melihat kisah-kisah leluhur Melayu hanya hidup dalam ingatan orang tua, ia melontarkan ide sederhana, mengabadikannya dalam bentuk buku. Sebuah gagasan yang akhirnya menyulut gerakan besar pelestarian budaya di Kabupaten Kepulauan Anambas. Dialah Reci, seorang anak muda dari Anambas.
Di tengah gemuruh arus globalisasi, suara masa lalu dari tanah Anambas hampir saja tenggelam. Cerita rakyat yang dulu hanya berbisik dari mulut ke telinga, perlahan pudar, nyaris hilang ditelan zaman. Namun, secercah harapan lahir dari semangat seorang anak muda bernama Reci.
Reci bukan sekadar pemuda biasa. Dari kegelisahannya melihat kisah-kisah leluhur Melayu hanya hidup dalam ingatan orang tua, ia melontarkan ide sederhana: mengabadikannya dalam bentuk buku. Sebuah gagasan yang akhirnya menyulut gerakan besar pelestarian budaya di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Gayung bersambut. Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu, langsung menangkap api semangat itu dan menggandeng Medco Energi untuk mewujudkan mimpi tersebut. “Alhamdulillah, kemarin ada anak muda kita, Reci, yang menginisiasi penulisan buku cerita rakyat. Saya langsung ajukan ke Medco Energi untuk membantu mencetak buku-buku ini,” ujar Bayu.
Bagi Bayu, ini bukan sekadar program, melainkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, cerita rakyat Anambas yang selama ini hanya hidup dalam tradisi lisan, kini terdokumentasi dalam bentuk tulisan. “Kalau tidak kita mulai sekarang, cerita rakyat kita bisa hilang. Buku ini bukan hanya bacaan, tetapi juga identitas budaya kita,” tegasnya.
Program ini pun berkembang menjadi lebih luas. Tidak hanya mencetak buku, tetapi juga menghadirkan seminar penulisan sejarah dan bedah buku cerita rakyat. Dua akademisi dari Universitas Tanjungpura, Ahadi Sulissusiawan dan Henny Sanulita, dihadirkan untuk membimbing penulis muda Anambas. Harapannya, lahir generasi baru yang berani menulis dan melestarikan warisan daerah.
Dukungan penuh datang dari Medco Energi. Senior Manager Field Relations & Security Offshore Medco, Ary Dwipermana, menyebut budaya Melayu adalah identitas yang wajib dijaga. “Melalui kolaborasi ini, kami menghadirkan ruang apresiasi sekaligus sarana pembelajaran bagi generasi muda agar tetap mencintai dan melestarikan budaya leluhur,” ujarnya.
Komitmen Medco juga diwujudkan dalam pendampingan kelompok seni lokal. Mulai dari pelatihan dasar sembilan tari pokok Melayu di sanggar-sanggar seni, hingga pemberian perlengkapan kesenian dan penghargaan untuk tokoh pelestari budaya.
Kini, jalan bagi anak-anak muda Anambas semakin terbuka. Mereka tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga penulis, penari, dan pewaris sejati yang membawa kisah leluhur ke masa depan. Dari halaman buku hingga panggung seni, semangat Melayu tetap hidup, berakar, dan bertumbuh bersama generasi baru. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO