Buka konten ini
SURABAYA (BP) – Dosen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Mudji Irmawan Arkani menilai insiden ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo, dipicu sejumlah faktor. Mulai dari struktur bangunan, kualitas material, hingga minimnya keterlibatan tenaga ahli.
Menurutnya, besar kemungkinan bangunan itu semula hanya ditujukan untuk satu lantai. Lalu, dijadikan hingga tiga lantai tanpa hitungan teknis dan desain awal yang matang. Alhasil, beban konstruksi terus bertambah tanpa pondasi yang sesuai.
”Kalau lihat dari foto yang beredar, sambungan antarlantai terlihat kurang menyatu,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (30/9).
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan bangunan mudah bergoyang. Itu lantaran beban vertikal semakin besar dan struktur tidak stabil.
Mudji menambahkan, penambahan lantai tanpa konsep membuat konstruksi rapuh. Beban santri yang beraktivitas di dalamnya semakin memperparah kondisi.
”Akhirnya bangunan tidak kuat dan ambruk,” ucapnya.
Dia menekankan, sejak awal jumlah lantai harus ditentukan agar pondasi dan struktur dapat menahan beban. Selain itu, jumlah dan ukuran kolom bangunan dirasa juga tidak memadai lantaran terlalu kecil. Desain struktur harus memperhatikan jarak antarkolm.
“Jika jaraknya lebar, balok dan kolom harus minimal 30×30 sentimeter. Kalau jaraknya pendek, kolom 20×20 sentimeter masih cukup,” katanya.
Mutu material yang digunakan juga dirasa tak sesuai Standar Nasional Indonesia. Tapi, untuk memastikan, memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, peran tenaga ahli sangat penting.
Pembangunan boleh dilakukan gotong royong, bahkan melibatkan santri. Tapi, pengawasan teknis harus ada. “Siapa pun yang membangun tetap wajib memperhatikan aspek-aspek konstruksi,” katanya.
Menurutnya, faktor tanah tidak berpengaruh pada kejadian yang terjadi Senin (29/9) sore tersebut. Itu mengingat lokasi ponpes berada di dataran stabil. Permasalahan utama terletak pada struktur bangunan atas, bukan pada tanah.
Keprihatinan Kemenag
Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny. Menag Nasaruddin Umar memastikan bahwa sejak kejadian pihaknya telah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur untuk memastikan proses evakuasi dan penanganan korban berjalan cepat dan baik.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menyampaikan, pihaknya juga telah mengarahkan dilakukannya survei teknis terhadap kondisi struktur bangunan pesantren dan musala yang ambruk.
Survei ini penting untuk mengetahui penyebab kerusakan, sekaligus memetakan potensi risiko pada bangunan lain di lingkungan pesantren. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO