Buka konten ini
ANTANANARIVO (BP) – Gelombang protes kembali mengguncang Madagaskar. Ratusan demonstran turun ke jalan di ibu kota Antananarivo, Selasa (30/9), meski dihadang aparat dengan penjagaan ketat dan tembakan gas air mata. Seperti dilansir dari channelnewsasia.com, aksi itu terjadi sehari setelah Presiden Andry Rajoelina memecat kabinetnya dalam upaya meredam kerusuhan yang menurut PBB, telah merenggut sedikitnya 22 nyawa.
Gerakan ini dipimpin anak muda yang terinspirasi aksi “Gen Z” di Indonesia dan Nepal. Mereka menyoroti tata kelola pemerintahan yang dianggap buruk, ditambah kemarahan atas pemadaman listrik dan air yang terus berulang di negara miskin di Samudra Hindia tersebut.
Rajoelina pada Senin lalu mengumumkan pemecatan seluruh menterinya, meminta maaf atas kelambanan mereka, dan berjanji mencari solusi bagi krisis nasional. Namun langkah itu tidak cukup menghentikan gejolak. Seruan lewat media sosial membuat massa kembali berkumpul sehari kemudian.
“Pemecatan itu hanya kemenangan kecil,” ujar Masova, aktivis berusia 30 tahun yang memakai nama samaran karena takut represi. “Kami ingin perubahan, negara hukum, dan keadilan untuk semua. Ini bukan lagi sekadar gerakan Gen Z.”
Di lapangan, polisi dikerahkan ke pusat kota. Aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan, sementara aktivitas di pinggiran kota mulai kembali normal, meski lalu lintas masih lengang.
Tuntutan utama demonstran jelas, Rajoelina harus mundur. Mereka menilai sang presiden—yang pertama kali berkuasa pada 2009 melalui kudeta—tak lagi layak memimpin. “Mereka menyebut kami generasi TikTok, generasi bodoh. Tapi ketika kami bangkit untuk memperjuangkan negeri ini, mereka membungkam kami,” kata seorang mahasiswa, berpakaian hitam untuk mengenang korban tewas.
Data PBB mencatat, sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 luka-luka akibat bentrokan dengan aparat sejak aksi dimulai pekan lalu. Beberapa korban adalah demonstran maupun warga yang tertembak polisi atau pasukan keamanan. Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB mengecam keras penggunaan peluru tajam. Namun pemerintah menolak angka itu, menyebutnya hanya “rumor atau informasi keliru”.
Gelombang protes pertama kali pecah di Antananarivo pada Kamis lalu, lalu merembet ke berbagai kota lain. Aksi itu sempat disusul penjarahan besar-besaran, hingga pemerintah memberlakukan jam malam dari senja hingga fajar.
Rajoelina, mantan wali kota Antananarivo, naik ke tampuk kekuasaan lewat kudeta yang menggulingkan Marc Ravalomanana. Setelah tak ikut pemilu 2013 karena tekanan internasional, ia kembali memimpin lewat pemilu 2018. Kini, setelah membubarkan kabinet, ia membuka pendaftaran calon perdana menteri untuk membentuk pemerintahan baru.
Namun kepercayaan publik terlanjur runtuh. “Presiden adalah bagian dari sistem yang korup. Ia mencoba membuat kami percaya ada perubahan, padahal tidak,” kata seorang insinyur pertanian berusia 30 tahun yang enggan disebut namanya.
Krisis politik ini menambah daftar panjang gejolak yang melanda Madagaskar sejak merdeka dari Prancis. Pada 1972, Presiden Philibert Tsiranana juga dipaksa menyerahkan kekuasaan kepada militer setelah aksi rakyat ditumpas dengan darah.
Kini, di negara yang menjadi produsen utama vanila dunia, ironi kembali mencuat. Meski kaya sumber daya pertanian, kehutanan, perikanan, dan mineral, hampir 75 persen penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan pada 2022, menurut Bank Dunia. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG