Buka konten ini
BATAM (BP) – Minat investasi di Kota Batam terus menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025. BP Batam mencatat sebanyak 86 calon investor melakukan penjajakan kerja sama sepanjang Januari hingga Juli 2025. Dari jumlah tersebut, 53 perusahaan berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan 33 dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Kepala Biro Umum BP Batam, Mohamad Taofan, mengatakan, tingginya minat calon investor ini mempertegas posisi Batam sebagai pintu masuk investasi regional di Asia Tenggara. “Jumlah calon investor yang datang ke Batam memperlihatkan kota ini jadi pintu masuk investasi regional, dan punya peran penting dalam rantai pasok industri internasional,” kata Taofan, Senin (29/9).
Dari sisi negara asal, investor asing didominasi China dengan 17 perusahaan, disusul Singapura (7 perusahaan), dan Amerika Serikat (5 perusahaan). “Ketiga negara ini menjadi motor pendorong masuknya investasi baru ke Batam, sejalan dengan tren globalisasi industri manufaktur, logistik, serta sektor jasa modern,” ucap Taofan.
Kehadiran calon investor ini sejalan dengan realisasi investasi. Pada triwulan II/2025, investasi PMA di Batam melonjak hingga Rp8,17 triliun, meningkat 497 persen dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp1,37 triliun. “Data ini memperlihatkan bahwa minat kunjungan calon investor berbanding lurus dengan realisasi investasi di lapangan,” ujarnya.
BP Batam menyebut tiga sektor utama paling diminati sepanjang 2025, yakni industri pengolahan atau manufaktur, pendidikan, dan konstruksi. “Ketiga sektor ini dipandang memiliki prospek jangka panjang karena didukung posisi Batam yang strategis serta infrastruktur yang terus berkembang,” kata Taofan.
Posisi Batam semakin kokoh sebagai hub perdagangan dan industri, ditopang proyek strategis nasional seperti pengembangan Bandara Internasional Hang Nadim dan modernisasi Pelabuhan Batuampar. “Infrastruktur yang terintegrasi ini menjadi salah satu alasan utama investor menjadikan Batam sebagai basis operasi regional,” ujarnya.
Secara kumulatif, realisasi investasi Batam hingga semester I/2025 sudah mencapai Rp33,72 triliun atau 56,2 persen dari target tahunan Rp60 triliun. “Calon investor yang datang mencerminkan adanya keyakinan besar bahwa kawasan ini siap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Asia Tenggara,” ungkap Taofan.
Sementara itu, Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk, menilai iklim usaha di bawah kepemimpinan Amsakar Achmad sebagai Kepala BP Batam masih business as usual. Menurutnya, belum ada terobosan besar, namun gairah investor tetap terjaga. “Kita patut bersyukur, walau belum ada terobosan besar, pemodal asing maupun domestik masih cukup berminat menanamkan modal di Batam,” katanya.
Batam, kata Jadi, tetap memiliki daya tarik kuat karena posisinya di jalur perdagangan internasional. Sektor-sektor unggulan masih ditopang industri pengolahan, konstruksi, real estate, perdagangan, serta jasa akomodasi dan restoran. Industri manufaktur elektronik dan galangan kapal juga menunjukkan tren positif.
Ia menilai respons BP Batam terhadap dunia usaha sejauh ini cukup baik, khususnya dalam merespons keluhan pengusaha terkait perizinan dan layanan investasi. “Kami melihat ada keseriusan BP Batam dalam menindaklanjuti masukan pengusaha. Kepastian layanan ini yang menentukan kepercayaan investor,” ujar Jadi.
Namun, dengan adanya PP No 25/2024 yang melimpahkan kewenangan perizinan ke BP Batam, dunia usaha masih menunggu kesiapan sistem dan SDM. “Dalam masa peralihan pasti ada masalah. Tapi yang penting, jangan sampai kepentingan pelaku usaha dikorbankan,” katanya.
Selain manufaktur, Jadi menilai sektor konstruksi, pariwisata, serta perdagangan barang dan jasa masih punya peluang besar. Arus wisatawan Singapura dan Malaysia yang terus meningkat menjadi pendorong tumbuhnya permintaan hotel, apartemen, hingga pusat belanja.
Ia mengatakan, pentingnya komitmen Amsakar dalam mewujudkan janji-janji politiknya. “Kalau konsistensi itu dijaga dan kepastian hukum diberikan, Batam akan semakin kuat sebagai tujuan investasi unggulan,” ujar Jadi. (*)
Reporter : arjuna
Editor : FISKA JUANDA