Buka konten ini

DHAKA (BP) – Kekerasan kembali meletus di wilayah perbatasan tenggara Bangladesh. Tiga orang tewas dalam bentrokan di Chittagong Hill Tracts, Minggu (28/9), setelah aparat keamanan menghadang aksi protes warga yang menuntut keadilan atas dugaan pemerkosaan seorang perempuan adat.
Situasi kian panas ketika massa menuding militer melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa. Namun, pihak militer membantah dan justru menyalahkan kelompok pemberontak.
Kepala Kementerian Dalam Negeri, Jahangir Alam Chowdhury, pada Senin (29/9) menuding senjata dari luar negeri masuk ke wilayah tersebut dan dipasok kepada kelompok bersenjata. “Senjata itu digunakan untuk menembak dari perbukitan,” ujarnya tanpa merinci lebih jauh.
Chittagong Hill Tracts sejak lama menjadi titik konflik antara komunitas adat dan warga penutur bahasa Bengali, terutama karena sengketa lahan dan perebutan sumber daya.
Seorang mahasiswa yang ikut unjuk rasa di Distrik Khagrachari mengaku aksi yang digelar sebelumnya berlangsung damai. “Kami hanya melakukan rapat umum dan blokade jalan. Tapi, militer menembaki kami hingga menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya,” ucapnya kepada AFP, meminta identitasnya dirahasiakan.
Militer lewat Inter-Services Public Relations (ISPR) membantah tuduhan itu. Mereka menuding United People’s Democratic Front (UPDF), faksi pemberontak yang menolak perjanjian damai 1997, sebagai pemicu kekerasan. ISPR menyebut kelompok itu menembakkan ratusan peluru ke arah aparat dan warga.
UPDF sendiri sudah puluhan tahun memperjuangkan tanah air suku. Meski sebagian kelompok menandatangani perjanjian damai 1997, faksi ini menolak dan terus menuntut otonomi penuh serta penarikan total pangkalan militer.
Gejolak terbaru ini menambah beban bagi pemimpin sementara Muhammad Yunus. Ia ditugaskan membawa Bangladesh menuju pemilu pada Februari mendatang — yang akan menjadi pemilu pertama sejak pemerintahan terguling akibat gelombang protes mahasiswa pada 2024. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MOHAMMAD TAHANG