Buka konten ini

SEBANYAK 18 murid SDN 016 Seilekop, Sagulung, Batam, mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (26/9). Peristiwa itu membuat suasana sekolah panik, karena belasan siswa kelas 3 dan 4 tiba-tiba mual dan pusing sesaat setelah makan.
Sebanyak 17 murid dirujuk ke RS Elisabeth Seilekop dan satu siswa ke puskesmas terdekat.
“Alhamdulillah, semua anak sudah mendapat penanganan dan kondisinya membaik,” ujar guru SDN 016, Emi Afriani, Senin (29/9).
Menu MBG yang dikonsumsi saat itu berupa spaghetti, minuman yakult, dan buah salak. Hanya murid yang masuk kelas siang yang terdampak, sedangkan siswa kelas pagi tidak mengalami keluhan.
Tim Puskesmas Sagulung bersama kepolisian langsung turun ke sekolah melakukan penanganan darurat sekaligus pemeriksaan awal terhadap sumber makanan.
Program MBG di SDN 016 Seilekop ditangani dapur MBG di Dapur 12 Sei Pelenggut yang mendistribusikan makanan ke sepuluh sekolah. Akibat kejadian ini, operasional dapur tersebut dihentikan sementara sejak Sabtu (29/9) untuk evaluasi dan renovasi.
“Sudah ada pengumuman resmi, program MBG dihentikan sementara sampai ada perbaikan,” jelas seorang guru.
Kasus ini mendapat sorotan DPRD Batam. Anggota DPRD dari Fraksi PAN, Safari Ramadhan, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi seluruh dapur MBG di Batam, bukan hanya di Sagulung.
“Kalau tidak layak, jangan diloloskan. Ini soal kesehatan anak-anak kita,” tegasnya.
Politikus PAN itu juga menekankan pentingnya pengawasan dari proses produksi hingga distribusi makanan.
“Bentuk sajian, penyimpanan, hingga kebersihan harus diperhatikan. Kalau pakaian robek bisa dijahit, tapi kalau makanan bermasalah langsung berdampak ke kesehatan,” ucapnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Hendri Arulan, turut mengingatkan agar pengawasan terhadap dapur MBG diperketat.
“Kepala SPPG harus benar-benar mengawasi produksi makanan. Harapan kita, makanan MBG enak, bergizi, menarik, dan setiap porsi lahap dimakan anak-anak,” ujarnya.
Kini, kepolisian bersama tenaga kesehatan masih menelusuri penyebab keracunan. Sementara itu, orang tua murid berharap evaluasi menyeluruh segera dilakukan agar program MBG bisa kembali berjalan aman dan bermanfaat bagi siswa. (***)
Reporter : Eusebius Sara, Rengga Yuli andra, Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK