Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menyiapkan pembiayaan sekitar Rp1 triliun untuk Program Riset Strategis tahun ink. Riset diharapkan dapat menghasilkan industri, start up, serta solusi baru bagi Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, program riset di Indonesia terbagi menjadi dua. Yakni, riset dasar dan riset hilirisasi. Keduanya harus sama-sama berjalan dan kuat.
Pada program riset strategis diprioritaskan pada riset hilirisasi. Yakni, hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan lama dan cocok dengan kebutuhan industri untuk kemudian bisa ditindaklanjuti menjadi produk industri.
”Itu kan ada di Asta Cita ya. Ada (riset) ketahanan pangan, kemudian ada energi, semi konduktor, pertahanan, hingga kesehatan,” ucap Brian dalam peluncuran program Riset Strategis di Jakarta, Senin (29/9).
Karena itu, pihaknya telah mencari industri-industri dan menawarkan kerja sama. Kemendiktisaintek sudah belanja kebutuhan industri dan mencoba mengawinkan dengan riset-riset di perguruan tinggi. Brian menekankan kembali bahwa riset penting.
Menurutnya, sudah banyak negara yang melampaui loncatan dari middle income menjadi upper income dengan didasari oleh kekuatan bangsa yang bergerak dengan berbasis sains dan teknologi.
”Tentu kami berharap, riset-riset yang berjalan nantinya bisa memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Dan juga kita ingin tentunya lebih jauh dari itu, riset menghasilkan industri-industri baru, startup-startup baru, maupun solusi-solusi baru yang menjawab kebutuhan dari bangsa kita,” terangnya.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Fauzan Adziman menjelaskan, riset strategis nasional berbeda dengan riset prioritas nasional. Riset prioritas nasional didanai langsung dari APBN dengan anggaran sekitar Rp 2,5 triliun per tahun.
Program itu berfokus pada peningkatan pemerataan kualitas penelitian di seluruh Indoneia. Sementara, riset strategis nasional anggarannya dari LPDP sekitar Rp1 triliun per tahun. Tujuannya, mendukung peneliti unggul agar bisa menghasilkan solusi nyata dan berdampak besar. Selain itu, program riset strategis dirancang lebih fleksibel karena bisa bersifat multi-tahun.
”Jadi tidak sekadar meningkatkan rata-rata kualitas penelitian, tetapi menajamkan fokus agar hasil riset bisa berdampak langsung,” paparnya.
Sejalan dengan itu, Kemendiktisaintek juga telah berkoordinasi dengan pihak perguruan tinggi untuk mendeteksi produk riset yang siap dikomersialisasikan. Tercatat, hingga akhir September, ada 814 produk hasil riset telah dikumpulkan. Nantinya, produk-produk tersebut dipaparkan dalam pertemuan antara inventor, investor, dan inovator untuk bisa dihilirisasi.
”Kami sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk BNI Ventures dan Kementerian Investasi. Tujuannya agar hilirisasi ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menarik minat investor dan bisa dipasarkan,” paparnya.
Sebagai bagian dari skema hilirisasi, Kemendiktisaintek akan mengembangkan mekanisme sandboxing untuk menguji kelayakan produk sebelum dipasarkan. Itu diharapkan dapat menguatkan kepercayaan industri dan membuka peluang kerja sama lebih luas dengan mitra swasta maupun lembaga internasional. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO