Buka konten ini

Produk buah tangan dari Desa Gentin Pulur di utara terluar Indonesia, tetapnya di Anambas, bercerita tentang tangan-tangan terampil yang menggarapnya, tentang laut dan hutan yang memberi sumber inspirasi, dan tentang sebuah daerah yang ingin dikenang bukan hanya karena keindahan alamnya.
BAGI wisatawan, galeri ini bukan hanya soal membawa pulang oleh-oleh. Ada rasa yang ikut mereka bawa, rasa tentang betapa kayanya budaya lokal, betapa gigihnya masyarakat menjaga tradisi, sekaligus betapa kuatnya mimpi untuk maju bersama.
Rak-rak kayu itu tampak berkilau diterpa cahaya lampu. Di atasnya, berjejer rapi rendang cumi dalam kemasan, kerupuk atom yang gurih, hingga anyaman rotan dan batik khas Anambas dari Desa Genting Pulur. Setiap produk seolah bercerita tentang tangan-tangan terampil yang menggarapnya, tentang laut dan hutan yang memberi sumber inspirasi, dan tentang sebuah daerah yang ingin dikenang bukan hanya karena keindahan alamnya.
Kini, wisatawan yang singgah di Tarempa tak lagi kebingungan mencari buah tangan. Mereka cukup melangkah ke Pusat Galeri Dekranasda Anambas di Jalan Hang Tuah.
Sebuah bangunan sederhana namun penuh makna yang diresmikan Senin (29/9) oleh Bupati Anambas, Aneng, bersama istrinya, Sinta, yang juga Ketua Dekranasda.
“UMKM harus menjadi garda terdepan dalam membangun ekonomi masyarakat. Melalui galeri ini, saya ingin produk lokal Anambas semakin dikenal luas dan memiliki daya saing tinggi,” kata Aneng, dengan nada tegas yang mencerminkan harapan besar.
Bagi Aneng, pembukaan gallery ini bukan sekadar acara seremonial. Ia tahu betul, UMKM adalah denyut nadi perekonomian daerah kepulauan. Di balik selembar kain batik atau sebungkus makanan khas, ada keluarga yang menggantungkan hidup. Ada generasi muda yang belajar menjaga tradisi. Ada pula mimpi tentang produk lokal yang suatu hari bisa menembus pasar nasional bahkan internasional.
Sinta, yang selama ini mendampingi pelaku UMKM, menyebut galeri ini sebagai “etalase resmi” karya masyarakat Anambas. Ia melihat lebih jauh dari sekadar transaksi jual beli. “Galeri ini simbol kebanggaan. Setiap produk yang dipamerkan mencerminkan kerja keras dan kreativitas masyarakat kita,” ujarnya dengan penuh kebanggaan.
Ia mendorong para pelaku usaha untuk tak berhenti berkreasi. Sebab daya tahan UMKM, menurutnya, terletak pada keberanian berinovasi.
“Jangan pernah ragu melangkah. Jadikan galeri ini pintu menuju kesuksesan yang lebih besar. Saya ingin produk Anambas menjadi ikon yang mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Bagi wisatawan, belanja di gallery ini bukan hanya soal membawa pulang oleh-oleh. Ada rasa yang ikut mereka bawa, rasa tentang betapa kayanya budaya lokal, betapa gigihnya masyarakat menjaga tradisi, sekaligus betapa kuatnya mimpi untuk maju bersama.
Galeri Dekranasda Anambas pun kini hadir sebagai ruang pertemuan. Antara pelaku usaha yang ingin berkembang, pemerintah yang memberi dukungan, dan wisatawan yang dengan bangga membawa pulang sepotong cerita dari kepulauan indah di ujung barat negeri. (***)