Buka konten ini

Di balik dapur sederhana Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ibu-ibu rumah tangga di Anambas bekerja dari subuh hingga malam. Peluh dan lelah mereka terbayar lunas saat melihat senyum anak-anak sekolah yang lahap menyantap hidangan penuh cinta.
SUBUH belum usai, tapi di Desa Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, asap dapur sudah mengepul. Suara pisau beradu dengan talenan, aroma bawang tumis menyeruak, dan nasi yang mengepul perlahan mengisi wadah-wadah kotak. Dari ruangan sederhana itu, lahirlah energi untuk ratusan anak sekolah di Anambas.
Mereka adalah 13 ibu rumah tangga yang tergabung dalam dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto. Setiap hari, tangan-tangan perempuan ini menyiapkan makanan bagi 557 pelajar. Dengan peluh yang menetes, mereka memastikan anak-anak tidak belajar dengan perut kosong.
“Saya dulu jaga kantin sekolah. Karena MBG ada di sini, saya ikut saudara kelola dapur ini. Dapurnya juga punya keluarga,” tutur Nurhayani (40), Kepala Dapur SPPG Air Asuk, sambil tersenyum.
Namun di balik semangatnya, ada lelah yang jarang terlihat. Dalam sehari, mereka bekerja delapan jam, terbagi dua sesi: dini hari pukul 04.00 hingga 08.00 WIB, lalu dilanjutkan sore hingga malam pukul 16.00 sampai 20.00 WIB.
“Kalau sore, biasanya motong ayam atau ikan. Sekalian bersihkan bumbu dan sayur,” ucap Nurhayani lirih, sambil mengusap peluh di dahi.
Pagi buta, ketika sebagian warga masih terlelap, tungku dapur itu sudah menyala. Nasi dimasak, lauk dipersiapkan sesuai menu ahli gizi. Meski dapurnya sederhana, mereka menjaga kebersihan dengan sepenuh hati.
“Alhamdulillah belum pernah ada laporan basi,” ujarnya bangga.
Bagi sebagian dari mereka, dapur ini bahkan sudah jadi rumah kedua. Ada yang memilih tinggal di mess karena jarak rumah terlalu jauh. “Hari libur Jumat sore baru pulang, lalu balik lagi Minggu sore,” kata Nurhayani.
Upah yang mereka terima pun tidak besar, Rp100 ribu per hari untuk tenaga produksi, Rp50 ribu bagi pencuci ompreng. “Kalau tak kerja, ya tak ada upah. Tapi segini pun cukup buat kami,” ujarnya dengan nada pasrah.
Namun, bukan uang yang membuat mereka bertahan. Ada rasa syukur dalam setiap kepulan asap, ada doa yang terselip di setiap kotak nasi. Mereka percaya, setiap suapan yang masuk ke mulut anak-anak adalah bekal untuk masa depan yang lebih cerah.
“Anak-anak harus makan, itu yang bikin kami kuat,” ucap Nurhayani, matanya berkaca-kaca.
Rasa panas uap, sakit punggung, bahkan luka sayat pisau bukan halangan. Semua terbayar saat mendengar tawa riang anak-anak yang menerima nasi kotak mereka.
Bagi ibu-ibu ini, MBG bukan hanya program. Ia adalah ibadah. Setiap piring nasi adalah doa sunyi, agar anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan kelak mampu berdiri tegak membawa nama bangsa.
Dari dapur kecil ini, lahirlah harapan besar. Sebab di balik setiap kotak nasi sederhana, tersimpan peluh, air mata, dan cinta tanpa batas dari para ibu yang berjuang tanpa pamrih. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO