Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Lonjakan harga cabai mendorong Pemerintah Kota Batam memaksimalkan potensi lokal untuk menahan laju inflasi. Ribuan ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) kini ikut bergerak menanam cabai di pekarangan rumah masing-masing.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, menyebut program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) menjadi solusi cepat di tengah krisis harga. Saat ini, sebanyak 2.400 anggota KWT terlibat menanam cabai.
“Setiap ibu menanam 20 polybag cabai. Jika dikumpulkan, totalnya mencapai 50 ribu batang atau setara 4 hektare. Hasil panen nantinya bisa langsung dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga,” ujarnya, Minggu (28/9).
Selain gerakan ibu-ibu, DKPP juga bekerja sama dengan 11 kelompok tani untuk menggarap 15 hektare lahan cabai merah di Nongsa, Sungai Beduk, dan Sagulung. Ditambah dengan tanaman sayur lain, total ada 18 hektare lahan baru yang dikembangkan tahun ini.
Menurut Mardanis, produksi cabai lokal memang belum mampu memenuhi kebutuhan Batam yang mencapai 10–15 ton per hari. Namun, panen perdana yang diperkirakan akhir November hingga awal Desember ditargetkan bisa menghasilkan hampir 1 ton per hari.
“Setidaknya, ini bisa menambah suplai dan menstabilkan harga di pasar,” katanya.
DKPP juga meluncurkan program Sekolah Lapang (SL) untuk meningkatkan keterampilan petani, mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, pemupukan berbasis riset, hingga penggunaan alat pertanian modern.
Saat ini, pasokan cabai Batam masih bergantung dari daerah lain, seperti Mataram, Yogyakarta, Sumatra Utara, Aceh, dan Padang. Namun, karena daerah-daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, harga ikut melambung tinggi.
“Ini bukan hanya persoalan Batam, tapi nasional. Hampir semua daerah menghadapi kondisi serupa. Bedanya, kita berusaha menyiapkan ketahanan pangan lokal agar lebih mandiri,” jelas Mardanis.
Diharapkan, kolaborasi petani dan KWT memberikan hasil nyata pada akhir tahun. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK