Buka konten ini

SUWON (BP) – Jonatan Christie menghela nafas panjang saat match point menghadapi Anders Antonsen pada babak final Korea Open di Suwon Gymnasium, Minggu (28/9). Teriakan Jonatan pecah setelah pukulan Antonsen tersangkut net.
Itu memastikan Jojo-sapaan akrabnya-menjadi kampiun Korea Open Super 500. Itu sekaligus gelar perdananya setelah memutuskan mundur dari Pelatnas PBSI Cipayung pada pertengahan Mei lalu.
“Memang ini bukan turnamen yang paling besar, yang top tier nya, tapi bagi saya ini sangat-sangat berarti,” ungkapnya pasca pertandingan.
Menurutnya, gelar juara Super 500 ini tidak terbayangkan baginya. Sebab, sebelumnya dia harus berjuang melawan cedera yang dideritanya. Karenanya, banyak waktu tersita untuk pemulihan.
“Lalu sakit lagi, pemulihan lagi, cari percaya dirinya, cari motivasinya. Dan hari ini (Minggu) terbayar, terima kasih Tuhan,” tutur peraih medali emas Asian Games 2018 itu.
Perihal pertandingan, Jojo menyebutkan, di lapangan memang kondisi menang dan kalah anginnya cukup terasa.
“Di game penentuan saya sudah unggul satu dua poin, itu membuat pede untuk terus menerapkan strategi yang sama,” ujarnya.
Sayangnya, Indonesia gagal menambah gelar. Itu setelah ganda putra Fajar Alfian/M Shohibul Fikri kalah dari wakil tuan rumah Kim Won Ho /Seo Seung Jae dengan dua game langsung (16-21, 21-23).
“Walaupun kami belum bisa meraih titel di Korea Open kali ini tapi kami sudah memberikan perlawanan dan tampil semaksimal mungkin,” ungkap Fajar. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO