Buka konten ini


TAIWAN (BP) – Topan Super Ragasa, siklon tropis terkuat di dunia, yang menerjang Taiwan, Tiongkok, Hongkong, dan Filipina selama tiga sampai empat hari (22–25/9) bukan hanya menewaskan 17 orang. Jumlah korban yang hilang dan masih dalam pencarian akibat topan berjuluk ”Raja Badai” dengan kecepatan hingga 270 kilometer per jam itu mencapai ratusan. Khususnya di Hualien dan Guangfu, wilayah timur Taiwan, yang paling terdampak.
Seperti dilaporkan Reuters Jumat (26/9), tim penyelamat Taiwan harus berjibaku dengan lumpur tebal di Hualien dan Guanfu.
Seperti diketahui, hujan deras di Hualien pada Selasa (23/9) menyebabkan danau penadah hujan di pegunungan meluap. Air bercampur lumpur pekat kemudian menghantam Guangfu.
Lumpur sampai Sepinggang
Meski banjir sudah surut, lumpur berwarna abu-abu gelap masih menyelimuti sebagian besar wilayah. Kondisi ini menyulitkan tim penyelamat yang dibantu warga dalam pencarian korban hilang. Para petugas, bahkan ada yang harus berjalan dengan lumpur setinggi pinggang, memotong atap-atap bangunan untuk memeriksa kemungkinan adanya korban yang terjebak.
Banyak korban tewas ditemukan di lantai dasar rumah, karena sebagian besar dari mereka adalah lansia yang tidak sempat mengikuti instruksi pemerintah untuk naik ke lantai atas.
Huang Ju-hsing, 88 tahun, jadi salah satu yang beruntung karena berhasil naik ke lantai atas. Akan tetapi, ia masih harus terjebak di lantai dua rumahnya setelah banjir menutup akses ke toko kelontong keluarga di lantai bawah.
”Kami menyuruhnya cepat naik ke atas,” ujar istri Huang, Chang Hsueh-mei, yang berhasil keluar dengan merangkak melewati puing-puing di lantai bawah. ”Saat menghadapi keadaan darurat, tiba-tiba kita menemukan keberanian untuk melakukan apa saja,” sambungnya.
Destinasi Wisata
Wilayah pegunungan Hualien merupakan daerah yang jarang penduduk. Wilayah ini sebagian adalah wilayah pedesaan yang menjadi salah satu destinasi wisata utama Taiwan karena keindahan alamnya. Namun, saat ini danau hanya tersisa 12 persen dari ukuran awal karena tertimbun longsoran akibat topan-topan sebelumnya. Pemerintah menolak opsi menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan tanggul alami tersebut karena khawatir memicu longsor baru dan memperburuk situasi.
Antisipasi Vietnam
Meski Ragasa sudah melandai kemarin, Vietnam tetap siaga. Seperti dilansir dari Associated Press, Perdana Menteri Vietnam Ph?m Minh Chinh memerintahkan kementerian dan pemerintah daerah untuk melindungi infrastruktur seperti bendungan dan rumah sakit, mengamankan kapal penangkap ikan dan aset pesisir, serta mempersiapkan operasi evakuasi dan pencarian dan penyelamatan.
Beberapa penerbangan dibatalkan atau dijadwal ulang, dan para pekerja memangkas pohon untuk menghindari bahaya angin di wilayah utara negara tersebut. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO