Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kecenderungan depresiasi yang lebih dalam dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Hingga pukul 15.05, Jumat (26/9), Bloomber Market Spot Rate mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp16.738 per USD. Bahkan, pada perdagangan Kamis (25/9) melemah 0,44 persen ke level Rp16.750 per USD.
Rupiah telah melemah 4,02 persen sepanjang tahun ini. Dalam sebulan ke depan, Bank Indonesia bakal berupaya menjaga nilai tukar di rentang Rp16.600 – Rp16.800 per USD.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo merespons perkembangan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. Dia menegaskan komitmen untuk menggunakan seluruh instrumen yang ada. Di pasar domestik melalui instrumen spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
”Maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat secara terus menerus, melalui intervensi NDF (non-deliverable forward),” kata Perry di Jakarta, Jumat (26/9).
Perry juga mengajak seluruh pelaku pasar untuk bersama-sama menjaga iklim pasar keuangan yang kondusif. Sehingga stabilitas nilai tukar rupiah dapat tercapai dengan baik.
Kebijakan Moneter Agresif
Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, langkah intervensi BI menggunakan cadangan devisa menjadi strategi paling ampuh dan cepat untuk menstabilkan rupiah dalam jangka pendek.
Dia juga menyoroti kebijakan moneter bank sentral yang cenderung terlalu agresif dalam pelonggaran suku bunga. Sejak September 2024, BI telah memangkas 150 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.
Sementara The Federal Reserve (The Fed) baru menurunkan suku bunga sebanyak 25 bps. Dan kemungkinan hanya akan menurunkan dua kali lagi ke depan. Perbedaan kebijakan ini menyebabkan selisih (spread) antara Fed funds rate dan BI rate makin menyempit, sehingga berpotensi memicu tekanan tambahan terhadap nilai tukar dan inflasi.
“Jadi ini yang mungkin akan berdampak kepada risiko nilai tukar dan inflasi,” tutur Rully.
Selain faktor kebijakan moneter, Kementerian Keuangan yang telah menyuntikkan dana sebesar Rp200 triliun ke sistem perbankan berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar secara signifikan. Ketika suplai rupiah terlalu besar, pasti berisiko harganya akan mengalami penurunan.
”Saya rasa memang rupiah menjadi salah satu yang mengalami depresiasi paling dalam di beberapa hari terakhir,” ujar Rully. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG