Buka konten ini

Guru Geografi
TANTANGAN pendidikan ke depan akan lebih kompleks karena dunia semakin banyak mengalami perubahan. Hadirnya kemudahan teknologi, misalnya, menjadi pisau bermata dua yang jika disikapi secara serampangan akan menjadi bumerang tersendiri bagi kelangsungan generasi selanjutnya.
Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise menyoroti bagaimana erosi kepercayaan terhadap pakar terjadi karena informasi yang dengan mudah didapatkan di media sosial. Informasi tersebut sering kali hanya sampai pada tataran permukaan, namun masyarakat memercayainya karena telah menjadi “fakta populer” yang diamini banyak orang.
Pada titik ini bukan berarti kebenaran yang banyak divalidasi oleh masyarakat selalu salah. Namun, perlu ada proses verifikasi dan crosscheck yang ketat untuk memastikan apakah suatu kesimpulan sudah memenuhi dasar logika atau tidak. Oleh karenanya, kelompok sosial adalah kumpulan individu yang saling memengaruhi dan terbentuk karena perbedaan maupun kesamaan tertentu.
Pertanyaan besarnya, jika individu-individu ini tidak lagi percaya pada pakar, bagaimana kelompok sosial—yang dibentuk dari interaksi mereka—akan berfungsi dan berjalan menuju mimpi besar bersama sebagai masyarakat yang cerdas dan bermoral? Karena negara dibangun dari kualitas individu yang kemudian membentuk sebuah konstruksi sosial.
Di sinilah lembaga pendidikan sebagai ruang di mana anggota masyarakat dididik memiliki peran sentral untuk menentukan arah kehidupan sosial demi kelangsungan generasi. Apa yang diharapkan ke depan berbanding lurus dengan apa yang saat ini dilakukan.
Jika yang diharapkan adalah lahirnya generasi dengan intelektualitas dan mentalitas mumpuni untuk bersaing di dunia global, maka harus ada situasi yang memungkinkan hal itu tercermin bersama.
Dengan kata lain, perlu ada kerja sama yang baik antara generasi yang memiliki sumber daya untuk memutuskan kebijakan dengan mereka yang menjadi objek kebijakan tersebut—antara generasi tua dan muda. Hal ini penting, sebab jika seorang dosen hanya bicara filsafat keadilan di ruang kelas tetapi terdapat kesenjangan dengan realitas sosial di lapangan, semua itu hanya menjadi diskusi kosong yang tak berarti apa-apa.
Kesimpulannya, perlu ada kepercayaan (trust) dan keberanian untuk menanggalkan ego masing-masing demi kebaikan bersama.
Realisasi
Berbicara kondisi konkret, pendidikan di Indonesia masih menyimpan banyak masalah yang belum ditangani dengan baik, mulai dari identifikasi hingga respons atas setiap persoalan. Salah satunya adalah kesenjangan fasilitas pembelajaran yang masih jauh berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain, dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Takdir geografis Indonesia yang begitu luas memang tak dapat ditampik, namun bukan berarti itu menjadi hambatan utama. Jika pemerintah serius dan berani mengambil political will yang melahirkan politics of hope untuk investasi di bidang pendidikan, hal itu akan menjadi angin segar bagi peluang kemajuan sumber daya manusia.
Program ini akan dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan agenda Revitalisasi Sekolah, menargetkan 10.440 satuan pendidikan sebagai sasaran revitalisasi pada 2025. Sebelumnya, program ini merupakan tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum, namun kini dialihkan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk dimaksimalkan pelaksanaannya.
Masyarakat perlu mengawasi dengan saksama agar program besar ini tidak berhenti sebagai janji politik, melainkan benar-benar terealisasi. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi pasar suara demi kepentingan elektoral semata.
Pembangunan fisik sekolah yang merata akan membuka peluang terciptanya suasana belajar yang nyaman dan aman bagi semua unsur pendidikan. Kenyamanan dan keamanan adalah faktor utama. Guru tidak akan kesulitan menyampaikan materi, sementara siswa lebih mudah mencerna informasi.
Bisa dibayangkan, jika seluruh sekolah di Indonesia berada dalam kondisi layak, iklim belajar nasional akan mengalami perubahan signifikan. Kompetisi antardaerah tidak lagi hanya didominasi wilayah pusat, tetapi merata dengan setiap daerah memiliki kemampuan yang relatif setara serta percaya diri untuk bersaing. (***)