Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku optimistis bahwa rupiah bakal menguat di hadapan mata uang Amerika Serikat (AS) pada pekan depan. Penguatan ini seiring dengan stabilitas ekonomi yang terus dilakukan oleh pemerintah.
”Mungkin pertengahan minggu depan juga udah balik. Ini kan kita baru konferensi pers sekarang, anggaplah baca koran nanti sore, market udah tutup kan? Senin baru mulai ini, Selasa, Rabu, sudah balik. Itu hitungan saya,” kata Purbaya dalam Media Briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (26/9).
Ia memastikan bahwa kedepan pemerintah akan terus berupaya memperbaiki fondasi ekonomi. Selain itu, Purbaya menyebut bahwa Kementerian Keuangan juga terus berupaya agar selalu sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia.
”Tapi, yang jelas gini, fondasi ekonomi kita akan membaik terus ke depan. Kita menjalankan kebijakan untuk mendorong ekonomi, enggak main-main. Bank Sentral juga sinkron dengan kami,” jelas Purbaya.
”Tujuannya sama menjaga stabilitas ekonomi dan menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Supaya kita semua kaya bareng-bareng lah gitu,” pungkasnya.
Sebelumnya, dalam beberapa hari ke belakang, mata uang Garuda ditutup di level Rp16.749 per dolar AS. Bahkan sempat anjlok hingga 80 poin sebelum akhirnya bergerak fluktuatif.
Hal yang sama juga terjadi pada perdagangan akhir pekan. Dimana mata uang rupiah masih melemah di level Rp16.740 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.749.
Pengamat Ekonomi Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan ini salah satunya dipengaruhi oleh perekonomian Indonesia yang diperkirakan tumbuh melambat pada Kuartal III 2025 dengan prediksi capaian pertumbuhan hanya 0,95 persen Quarter-to-Quarter (qtq).
Sementara itu, dalam hitungan Yea-on-Year (yoy), perekonomian domestik diperkirakan tumbuh 4,8 persen pada kuartal III 2025, tak berubah dari proyeksi sebelumnya. ”Hanya, bila prediksi tersebut terealisasi, itu juga akan menjadi perlambatan yang cukup dalam mengingat pada kuartal II lalu, perekonomian Indonesia tak terduga tumbuh melampaui angka 5 persen, tepatnya 5,12 persen bahkan ketika tidak ada musim perayaan yang biasanya mengungkit permintaan domestik,” ungkap Ibrahim. (*)
Reporter : JP Group
Editor : Gustia Benny