Buka konten ini

MENTERI Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan dukungan Pemerintah Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dan kesiapan mengirim pasukan penjaga perdamaian. Hal itu disampaikan saat menerima 44 kadet Universitas Pertahanan (Unhan) asal Palestina di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jumat (26/9).
Dalam pertemuan tersebut, Sjafrie menyampaikan bahwa Indonesia tidak hanya berjuang secara kemanusiaan, tetapi juga siap berperan dalam misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kawasan Gaza dan Palestina apabila diperlukan.
“Indonesia tidak hanya berjuang secara kemanusiaan terhadap Palestina, tetapi Indonesia juga siap untuk berperan dalam rangka pasukan (penjaga) perdamaian apabila dibutuhkan oleh PBB,” ujar Sjafrie.
Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus pemberian dukungan moril kepada para kadet yang tengah menempuh pendidikan di Unhan. Sjafrie menekankan pentingnya semangat belajar para pemuda dan pemudi Palestina meski jauh dari keluarga, dengan harapan mereka kelak menjadi pemimpin di negara asalnya.
“Para kadet Unhan yang sekarang sedang belajar, supaya terus semangat untuk mencapai cita-cita sebagai generasi intelektual dari negara Palestina. Kami, bangsa Indonesia, akan terus membantu kalian dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Palestina,” tambahnya.
Menhan Sjafrie juga memutar pidato Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam sidang umum PBB beberapa waktu lalu. Dalam pidato itu, Presiden menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan memperjuangkan two state solution hingga tercapai.
Selain itu, Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan kapasitas pemuda Palestina melalui program beasiswa pendidikan di Unhan, agar mereka bisa menjadi pemimpin masa depan bangsa Palestina.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Frega Wenas, menambahkan bahwa kesiapan Indonesia mengirim pasukan penjaga perdamaian akan tetap memerlukan mandat resmi dari PBB dan pihak berwenang di wilayah konflik.
“Kalau berbicara peace keeping, kita tidak bisa secara unilateral atau atas keinginan kita sendiri. Tentunya harus ada mandat dari PBB dan negara yang memiliki otorita di sana,” jelasnya.
Brigjen Frega menegaskan kesiapan tersebut sesuai dengan pernyataan Presiden Prabowo dalam sidang PBB. Apalagi, Indonesia telah memiliki Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) yang dibangun sejak 2012, sehingga siap mendukung misi perdamaian internasional jika diminta.
Di tengah konflik yang masih terus berlangsung di Palestina, dukungan Indonesia ini menjadi salah satu bentuk nyata keberpihakan pada rakyat Palestina, bersamaan dengan upaya internasional lain, termasuk bantuan kemanusiaan bagi warga yang terdampak di Gaza. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO