Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Malas gerak bisa memicu penyakit yang tidak main-main: bisa terkena serangan jantung dan stroke di kemudian hari.
Gaya hidup yang tidak sehat ini ternyata jamak di kalangan anak muda termasuk di Kota Batam. Kondisi ini tentu meresahkan dan menjadi perhatian para pakar kesehatan dunia, tak terkecuali di kota industri ini.
Di Batam, sejumlah akademisi dari kampus Uniba dan Iteba turut peduli dengan kondisi tersebut. Mereka berkolaborasi membentuk tim untuk meneliti dan bakal menghadirkan produk berupa gelang kesehatan bagi remaja yang bertujuan mendeteksi denyut jantung.
Tim peneliti terdiri dari Ana Faizah, Ansarullah Lawi, Susanti, Gunawan Toto Hadiyanto, dan Jogie Suaduon.
Ketua tim peneliti, Dr. Ns. Ana Faizah, mengatakan bahwa penelitian ini masih dalam progres, dan masih membutuhkan masukan dari banyak pihak.
“Penelitian kami ini masih on progress, saat ini baru rampung sekitar 60 persen,” ungkap Ana di sela acara Fokus Grup Discussion (FGD) di ruang rapat lantai 2 Sozo Bakery Batam, Kamis (25/9).
FGD tersebut mengangkat tema Implementasi aktivitas fisik dan penerapan gaya hidup sehat remaja sedentary behavior sebagai upaya pencegahan prevensi penyakit cardiovaskular aterosklerosis (PKVA).
Latar belakang dari penelitian ini, katanya, dikarenakan semakin tingginya kasus penyakit kardiovaskular atau penyakit kurang gerak.
“Kurangnya aktivitas fisik pada remaja adalah salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), bukan penyakit yang berbeda. Gaya hidup sedentari memicu obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi, yang semuanya membahayakan jantung dan dapat menyebabkan penyakit jantung di kemudian hari,” jelasnya.
Di tempat yang sama akademisi ITEBA, Dr. Eng Ansarullah Lawi, menambahkan bahwa dalam penelitian ini nantinya ada solusi yang ditawarkan yakni produk terapi aktivitas fisik (gelang kesehatan) yang bertujuan mendeteksi denyut jantung.
“Produk gelang kesehatan ini merupakan pengembangan solusi teknologi berbasis IoT dalam kehidupan dengan tetap memperhatikan pola hidup dan kesehatan pengguna teknologi,” paparnya.
Ia juga menjelaskan dalam produk ini nantinya bakal ada pemberian notifikasi terhadap perilaku yang kurang sehat pada remaja yang mempunyai kecenderungan kurang baik terhadap kesehatan pribadi mereka.
“Pola pemberian notifikasi dengan penampilan beberapa grafik terhadap pergerakan dan pola ritme jantung dan data spo2 diharapkan menjadi bahan yang cukup adaptif bagi remaja untuk senantiasa bergaya hidup sehat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Botania, Fauzi Nuristianto, mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular aterosklerosis menjadi penyebab kematian utama di dunia, yakni mencapai 32 persen, 85 persen yang disebabkan serangan jantung dan strok.
Ia menjelaskan bahwa penyakit kardiovaskular aterosklerosis adalah kondisi di mana terjadi penumpukan plak (campuran lemak, kolesterol, dan zat lain) di dinding arteri, menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah, serta menghambat aliran darah dan berisiko menyebabkan komplikasi seperti serangan jantung dan stroke.
“Kondisi ini dapat dipicu oleh faktor gaya hidup seperti diet tidak sehat, merokok, dan kurang olahraga,” pungkasnya.
Sementara, anggota tim peneliti, Jogie Suaduon, menambahkan bahwa riset gelang kesehatan tersebut sudah dimulai sejak dua bulan lalu dan pengembangan dipusatkan di kampus Iteba. ”Kami juga sudah sosialisasi ke pelajar. Untuk yang pertama kami datangi adalah SMKN 7 Batam,” sebut Jogie.
Jogie menyebut bahwa tim peneliti sudah selesai membuat aplikasi yang nantinya bisa di-download di handphone. ”Nama aplikasinya YoungCare,” katanya.
FGD tersebut dihadiri Biro SDM BP Batam, Kepala UPT Puskesmas Botania, UPT Puskesmas Tanjung Batu, Humas SMKN 7 Batam, KIM Karang Taruna Batam, serta tim peneliti. (*)
Reporter : Azis Maulana
Editor : RATNA IRTATIK