Buka konten ini

CUACA tidak menentu dalam beberapa bulan terakhir membuat petani sayur di Tembesi Sidomulyo, Sagulung, kian terhimpit. Hasil panen terus merosot sehingga pasokan sayur ke pasar menurun drastis. Kondisi ini memicu kenaikan harga yang kini dirasakan langsung masyarakat.
Syaiful, petani sayur di Sidomulyo, mengungkapkan panennya anjlok selama dua bulan terakhir. Biasanya ia bisa memanen 20–30 kilogram, kini hanya belasan kilogram, itu pun dalam kondisi sayur yang tidak maksimal.
“Tanaman banyak yang kerdil dan diserang jamur putih. Jagung dan sayuran lain juga banyak yang rusak,” ujarnya dengan nada lesu, Jumat (26/9).
Banyak petani bahkan gagal panen sama sekali. Hujan deras yang diselingi panas ekstrem tidak hanya merusak pertumbuhan tanaman, tetapi juga memicu hama dan penyakit.
“Kami sudah berusaha ketat dalam pemanenan, tapi hasilnya tetap jauh berkurang,” tambah Syaiful.
Kelangkaan hasil panen langsung berimbas pada harga. Anwar, pedagang sayur di Pasar Aviari, Batuaji, menyebut harga sayur melonjak hingga Rp20 ribu per kilogram. Beberapa jenis sayuran yang didatangkan dari luar Batam bahkan dijual lebih tinggi.
“Masih tinggi karena memang petani gagal panen,” jelasnya.
Ironisnya, kenaikan harga tidak serta-merta menguntungkan para petani. Jumlah panen yang sedikit membuat mereka tetap kesulitan menutup biaya produksi.
“Kalau hasil sedikit, harga naik tetap saja tidak untung banyak. Sebaliknya, kalau panen melimpah, harga malah anjlok,” keluh Syaiful lagi.
Kondisi ini menjadi cerita klasik yang kerap dialami petani: menanggung risiko kerugian di tengah cuaca tak menentu dan harga yang tidak stabil.
Para petani berharap pemerintah hadir dengan kebijakan yang berpihak, salah satunya melalui kontrol harga di pasar. Dengan begitu, harga sayuran bisa stabil dan petani tidak selalu menjadi pihak yang paling dirugikan.
“Kami cuma ingin ada kepastian. Jangan sampai setiap musim panen kami yang terus jadi korban,” ujarnya.
Selain itu, mereka juga meminta dukungan teknologi dan pendampingan pertanian agar lebih siap menghadapi perubahan iklim.
“Kalau cuaca sulit diprediksi, paling tidak ada cara untuk mengurangi dampaknya. Kami butuh solusi, bukan sekadar janji,” tutup Syaiful.
Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, tak memungkiri harga sejumlah komoditas pangan melonjak, termasuk sayuran dan cabai. Namun, pihaknya mengklaim tengah menggesa sejumlah kebijakan untuk menopang suplai komoditas. Antara lain, meningkatkan produksi lokal. Tahun ini, DKPP bersama 11
kelompok tani mengembangkan 15 hektare lahan cabai merah, ditambah 5 hektare bayam dan kangkung. Satu kelompok tani terdiri dari 5–10 orang.
Selain itu, program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) juga melibatkan sekitar 2.400 ibu-ibu kelompok wanita tani. Masing-masing menanam 20 polybag cabai, sehingga total ada sekitar 50 ribu batang atau setara 4 hektare.
“Kalau ditotal, tahun 2025 ini ada sekitar 18 hektare lahan cabai yang sedang dikembangkan di Batam. Memang saat ini baru tahap pengolahan tanah, jadi belum ada produksi. Perkiraan hasil baru akan terlihat pada akhir November hingga awal Desember,” kata Mardanis.
Lahan cabai yang dikembangkan tersebar di Kecamatan Nongsa, Sungai Beduk, dan Sagulung. DKPP juga menggulirkan program Sekolah Lapang (SL) bagi petani, mencakup pengolahan tanah, pembibitan, penggunaan peralatan, hingga pemupukan berbasis riset.
Jika program berjalan lancar, Mardanis memperkirakan produksi cabai lokal bisa mencapai hampir 1 ton per hari. Sementara kebutuhan masyarakat Batam sekitar 10 hingga 15 ton per hari.
“Kalau sudah jalan, diharapkan harga cabai bisa turun pada Desember,” ujarnya. (***)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK