Buka konten ini

KETERSEDIAAN obat cacing di Kota Batam, khususnya di rumah sakit dan puskesmas, dipastikan aman. Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam tidak menampik adanya informasi kosongnya stok obat cacing di sejumlah apotek.
Kepala Dinkes Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa obat untuk program pemberantasan cacingan tersedia di seluruh puskesmas dan rumah sakit.
“Obat cacing cukup, distribusinya lancar. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya kepada Batam Pos, baru-baru ini.
Didi mengakui, kelangkaan memang sempat terjadi di beberapa apotek swasta. Namun, kondisi itu berada di luar kendali Dinkes.
“Kalau stok di apotek memang bukan kewenangan kami. Tapi untuk program pemerintah, obat cacing tersedia di puskesmas dan rumah sakit,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah jaringan apotek, termasuk Kimia Farma. Dari hasil komunikasi, kelangkaan disebabkan masalah distribusi nasional.
“Sejak ada kasus anak meninggal karena cacingan, permintaan obat cacing naik tajam. Dari distributor tidak ada pengiriman lagi, stok kosong secara nasional,” kata Didi menirukan keterangan pihak apotek.
Meski demikian, Didi memastikan program pemberian obat cacing di Batam tetap berjalan sesuai target. Untuk semester pertama 2025, capaian pemberian obat cacing mencapai hampir 85 persen, naik dibanding tahun sebelumnya.
“Semester kedua masih berlangsung karena baru masuk September. Kami optimistis capaian bisa meningkat lagi,” katanya.
Menurut Didi, pemberian obat cacing dilakukan dua kali dalam setahun, idealnya setiap enam bulan sekali. Program ini menyasar anak usia 12–59 bulan melalui posyandu, serta anak usia sekolah dasar melalui sekolah dan fasilitas kesehatan.
“Waktu pelaksanaan biasanya Februari dan Agustus, tapi bisa menyesuaikan kondisi. Dosis juga berbeda sesuai usia,” jelasnya.
Anak usia 12–23 bulan diberikan Albendazol 200 mg, sementara anak usia 2–12 tahun mendapat Albendazol 400 mg dalam dosis tunggal.
Didi mengakui kasus cacingan masih ditemukan di Batam, meski prevalensinya tidak setinggi daerah lain di Indonesia.
“Ada, tapi tidak tinggi. Kondisi anak-anak yang terdampak juga masih bisa ditangani,” ujarnya.
Karena itu, Dinkes terus menggencarkan distribusi obat cacing melalui posyandu dan sekolah. “Kami proaktif menyalurkan obat. Ini bagian dari upaya menjaga kesehatan anak-anak Batam,” pungkas Didi.
Sebelumnya, sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan obat cacing di beberapa apotek di wilayah Batam Center dan Nongsa. Ida, ibu muda dua anak, mengaku mendatangi sejumlah apotek namun tak mendapatkan obat cacing yang dimaksud.
”Katanya stok kosong. Mungkin gara-gara ada kasus anak di Jawa Barat yang meninggal setelah di tubuhnya keluar cacing itu, makanya banyak yang beli ke apotek, jadinya banyak kosong,” katanya. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK