Buka konten ini

Seumur hidupnya tak pernah sekolah. Dulu hanya bisa menyekolahkan anak-anak dengan hasil jual sayur keliling. Hari ini, di usia tua, Aminah yang telah menapaki usia 73 tahun, merasakan apa itu diwisuda.
BAGINYA, sekolah lansia lebih dari sekadar tempat belajar. Di sana berbagi cerita, belajar kesehatan, dan menguatkan diri agar tetap semangat meski usia senja telah tiba. Baginya, meraih kebanggan bisa dilakukan oleh siapapun dan tak mengenal batas usia.
Pagi itu, Balai Desa Air Asuk tampak berbeda dari biasanya. Suara tawa, tangis, dan pelukan hangat memenuhi ruangan sederhana yang biasanya hening. Di bangku-bangku tersusun rapi, 33 orang lanjut usia mengenakan selempang wisuda, siap menyambut momen yang mungkin tak pernah mereka bayangkan seumur hidup.
Rambut mereka memutih, beberapa berjalan tertatih dengan tongkat, sementara yang lain digandeng anak atau cucu. Namun, wajah mereka berseri-seri, seakan menolak bayangan usia senja yang kerap identik dengan lelah dan pasrah. Inilah Wisuda Sekolah Lansia Anggrek, program yang digagas untuk memberi kesempatan orang tua tetap belajar, tetap berdaya, dan merasa dihargai.
Saat satu per satu wisudawan dipanggil maju ke panggung, suasana berubah menjadi hening sendu. Air mata menetes dari sudut mata banyak orang. Sebagian besar dari mereka belum pernah merasakan “diwisuda” sebelumnya. Momen ini menjadi pengakuan sederhana namun bermakna bahwa belajar dan prestasi tak mengenal batas usia.
Prosesi dipimpin langsung Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, didampingi Wakil Bupati Raja Bayu Febrian Gunadian dan Sekretaris Daerah Sahtiar. Kehadiran para pemimpin daerah itu membuat para wisudawan merasa dihormati dan diperhatikan.
“Sekolah lansia hadir untuk membuat bapak dan ibu tetap sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat,” ucap Bupati Aneng. Ucapannya membuat banyak hadirin menunduk dalam rasa hormat.
Titik paling menyentuh datang dari nenek Aminah, 73 tahun. Ia melangkah perlahan ke panggung, tangan keriputnya menggenggam erat map wisuda.
”Seumur hidup, saya tidak pernah sekolah. Dulu saya hanya bisa menyekolahkan anak-anak dengan hasil jual sayur keliling. Hari ini, di usia tua, saya merasakan apa itu diwisuda. Saya tak pernah mimpi bisa berdiri di sini. Terima kasih, ya Allah,” lirihnya.
Ruangan pun hening. Air mata menetes dari banyak mata, termasuk cucu Aminah yang berlari memeluk neneknya. Pelukan itu seakan menjadi simbol bahwa penghargaan sejati tidak pernah terlambat diberikan.
Bagi Aminah dan rekan-rekannya, sekolah lansia lebih dari sekadar tempat belajar. Di sana mereka berbagi cerita, belajar kesehatan, dan menguatkan diri agar tetap semangat meski usia senja telah tiba.
Di akhir prosesi, seluruh wisudawan berdiri bersama menyanyikan lagu sederhana. Suara mereka serak, tak seindah paduan suara, tetapi penuh ketulusan dan kehangatan. Hari itu, Desa Air Asuk menjadi saksi bahwa penghargaan tak mengenal batas usia.
Bagi nenek Aminah, wisuda ini adalah hadiah terindah di masa senjanya. “Saya tidak punya banyak harta untuk ditinggalkan. Tapi hari ini, saya punya kebanggaan untuk dikenang oleh anak dan cucu saya,” ujarnya sambil tersenyum dalam tangis haru. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO