Buka konten ini

BATAM (BP) — Junita, salah satu orang tua murid SDN 001 Batuaji, mengaku merasa tertekan dan diintimidasi pihak sekolah setelah mengunggah keluhan soal menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di media sosial. Unggahan itu awalnya dimaksudkan sebagai masukan agar kualitas makanan bagi anak-anak penerima manfaat program pemerintah tersebut bisa lebih baik.
Junita menceritakan, unggahan yang ia buat pada Selasa malam (23/9) langsung mendapat respons dari pihak sekolah. Keesokan harinya, anaknya yang duduk di kelas IV dan masuk siang dipanggil guru serta disebut sedang dicari kepala sekolah.
“Guru-guru menyuruh komite menelepon saya. Saya kaget karena saya hanya mem-posting (unggah) menu MBG yang menurut saya perlu diperbaiki,” ungkap Junita, Rabu (24/9).
Ia mengaku kecewa karena niatnya menyampaikan kritik membangun justru dianggap sebagai upaya menjelekkan sekolah.
“Saya tulis nama sekolah supaya tahu lokasi MBG yang saya maksud. Tujuannya agar ada perbaikan, bukan untuk merusak nama baik sekolah,” katanya.
Situasi semakin memanas saat Junita dipanggil ke sekolah. Ia mengaku sempat mendapat ancaman verbal dari kepala sekolah. “Kepala sekolah, Ravios, marah, bahkan sempat mau melempar benda di meja ke arah saya. Katanya saya menjelekkan nama sekolah. Anak saya juga diancam mau dikeluarkan,” ujarnya.
Selain itu, Junita diminta membuat pernyataan dan klarifikasi di media sosial untuk membantah unggahannya. Namun, ia menolak karena merasa tidak melakukan kesalahan.
“Saya tidak mau klarifikasi karena niat saya dari awal bukan menjelekkan sekolah, tapi ingin program ini benar-benar bagus untuk anak-anak,” tegasnya.
Ia juga menyebut mendapat ancaman akan dilaporkan secara hukum jika tidak bersedia membuat klarifikasi publik.
“Saya diancam akan dibawa ke jalur hukum. Padahal saya hanya menyampaikan pendapat agar ada perbaikan,” ucap Junita.
Menanggapi tudingan tersebut, Kepala SDN 001 Batuaji, Ravios, membantah telah melakukan intimidasi. Ia mengakui sempat marah karena sebelumnya sudah ada imbauan agar orang tua menyampaikan keluhan langsung ke pihak sekolah, bukan melalui media sosial.
“Tidak ada intimidasi. Saya memang marah karena sebelumnya sudah diingatkan: kalau ada masalah, sampaikan langsung ke pihak sekolah, tidak perlu posting ke medsos,” jelas Ravios.
Ravios menambahkan, pihak sekolah tidak memiliki kewenangan menentukan menu MBG karena makanan disediakan oleh Satuan Pendidikan Pelaksana Gizi (SPPG).
“Menu MBG ini dari SPPG, sekolah hanya menerima. Tiap hari menunya berbeda dan sudah dikaji dua ahli gizi di masing-masing SPPG,” katanya.
Kasus ini menjadi perhatian publik terkait cara pihak sekolah merespons kritik dari orang tua murid.
Ketua Pelaksana MBG di SDN 001 Batuaji, Budiono, menegaskan setiap menu yang disajikan sudah sesuai standar gizi yang ditetapkan pemerintah.
“Mungkin ibu itu kurang memahami program ini. Menu MBG berasal dari dapur umum dan selalu berganti setiap hari,” ujarnya, Rabu (24/9).
Menurut Budiono, pihaknya bekerja sama dengan ahli gizi dalam merancang pola makan bagi siswa. Menu yang dihadirkan tidak sembarangan, melainkan sudah diperhitungkan kandungan protein, vitamin, serta kebutuhan nutrisi anak.
“Setiap hari menunya berbeda dan memenuhi kebutuhan gizi. Semua ada laporan dan foto bisa dilihat,” tambahnya.
Ia menyebut program MBG sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Bahkan, program tersebut berdampak positif terhadap semangat belajar siswa.
“Alhamdulillah, selama ini aman dan lancar. Anak-anak juga jadi semangat ke sekolah, mereka suka bertanya-tanya menu apa lagi yang akan disajikan besok,” kata Budiono.
Sebagai contoh, pada Rabu (24/9), menu yang diberikan kepada siswa adalah roti isi daging dan keju, mirip dengan burger. Sehari sebelumnya, menu yang disajikan berupa nasi, ayam, sayur wortel, dan tempe. “Itu semua sudah diatur agar bergizi seimbang,” jelasnya.
Di SDN 001 Batuaji, penerima manfaat program MBG mencapai 947 siswa. Angka tersebut menunjukkan pentingnya program ini dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak sekaligus meringankan beban orang tua.
Komisi IV DPRD Batam juga sempat melakukan kunjungan langsung ke sekolah tersebut. Dalam kunjungan itu, anggota dewan melihat proses pembagian makanan kepada siswa serta kondisi dapur umum yang memasok menu MBG.
Koordinator Satuan Pendidikan Pelaksana Gizi (SPPG) Batam, Defri Frenaldi, memberikan penjelasan senada. Ia menegaskan program MBG di Batam, termasuk di SDN 001 Batuaji, telah dijalankan sesuai aturan pemerintah dengan pengawasan melekat dari tenaga ahli gizi.
“MBG bukan sekadar memberikan makanan, tapi juga pendidikan gizi bagi anak-anak sejak dini. Jadi orang tua tidak perlu khawatir, karena semua sudah sesuai standar,” tegas Defri.
Dengan penjelasan tersebut, pihak sekolah dan koordinator SPPG berharap masyarakat, khususnya orang tua siswa, dapat lebih memahami tujuan program MBG. Mereka juga mengimbau agar kritik disampaikan langsung kepada pelaksana, sehingga bisa diklarifikasi tanpa menimbulkan kesalahpahaman di ruang publik. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RATNA IRTATIK