Buka konten ini

BATAM (BP) – Kepulauan Riau (Kepri) mulai menunjukkan langkah nyata dalam mendukung agenda nasional transisi energi bersih. Melalui kolaborasi pemerintah daerah, pelaku industri, akademisi, hingga lembaga internasional, Kepri digadang menjadi salah satu daerah percontohan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.
”Ada banyak investor yang menyatakan kesiapan berinvestasi di green energi ini dalam sakala besar, khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),” ungkap Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kepri, M. Darwin, saat Podcast bersama Batam Pos di Aston Nagoya City, Batam, Selasa (23/9)
Saat ini, Kepri masih bergantung pada energi fosil. Namun, pemerintah provinsi telah menetapkan target bauran energi hingga 2050, dengan komposisi 8 persen minyak bumi, 8 persen batu bara, dan 30 persen gas bumi.
“Kepulauan Riau sangat memungkinkan untuk pemetaanpotensi energi. Saat ini pemerintah sudah bekerja sama dengan PLN,” ungkap Darwin.
Selain PLTS, masih banyak potensi EBT lainnya, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut, ombak, angin, biomassa, air, dan lainnya yang bisa dikembangkan di Kepri.
Proses pemetaan potensi EBT tersebut di wilayah Kepri masih terus dilakukan. Namun, sejumlah titik sudah diujicoba para peneliti dari berbagai kampus, khususnya dari Politeknik Negeri Batam, bekerjasama dengan Pemprov Kepri melalui Dinas ESDM Provinsi Kepri. Bahkan, di beberapa wilayah seperti di Lingga, sudah dikembangkan EBT, meski kapasitasnya belum besar.
”Bauran energi ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan kita pada energi fosil. Apalagi sudah ditopang dengan regulasi,” ujar Darwin.
Namun Darwin menekankan, transisi energi tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi, terutama dengan kalangan akademisi dan pengusaha (Detail pembahasan EBT dengan tema:
”Kolaborasi Menuju Transisi Energi di Kepulauan Riau” bisa disimak di Podcast Batam Pos yang akan tayang di kanal Youtube Batam Pos dan semua platform Medsos Batam Pos, red).
Dosen Politeknik Negeri Batam, Arif Febriansyah Juwito, menambahkan, potensi EBT di Kepri cukup banyak, mulai dari arus laut, ombak, angin, biomassa, dan PLTS. Sumber EBT tersebut pada tataran pelaksanaan bisa dikombinakan untuk saling mendukung.
“Tapi karakteristik tiap pulau di Kepri berbeda. Misalnya, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) bisa dikombinasikan dengan PLTS seperti di Lingga, agar saling menopang,” ujarnya.
Menurut Arif, teknologi yang dibutuhkan untuk transisi energi terus berkembang. Karena itu, diperlukan pula pemetaan sosial (social mapping) agar masyarakat memahami potensi energi di wilayah mereka.
Darwin menambahkan, ada program baru 2025–2028 yang ditargetkan menyelesaikan masalah kelistrikan di pulau-pulau yang belum teraliri listrik. Program ini akan menyasar 60 pulau, dengan harapan listrik dapat menyala 24 jam meskipun dalam kapasitas terbatas.
Dalam podcast tersebut, juga dibahas persoalan sampah di Telaga Punggur yang memiliki potensi untuk diolah menjadi energi listrik. Sejumlah kajian telah dilakukan, termasuk kemungkinan mengolah sampah menjadi energi.
“Sempat ada pembicaraan dengan Denmark dan China mengenai teknologi waste to energy. Nantinya memang ada biaya tambahan terkait pengelolaan sampah. Namun, semua keputusan tetap menunggu Pemko Batam dan BP Batam,” jelas Darwin.
Selain itu, Kepri juga mulai merancang desain bangunan ramah lingkungan (green building) yang meminimalkan penggunaan energi, terutama untuk pencahayaan.
“Desain green building ini tidak semua ruangan memakai AC, dan sirkulasi udara dibuat optimal,” tambahnya.
Ke depan, lanjut Darwin, akan dikembangkan pula desain area parkir yang memanfaatkan panel surya (PLTS). Ia menegaskan, Kepulauan Riau siap menjadi contoh bagi provinsi lain.
“Gubernur dan jajarannya sudah berkomitmen penuh dalam mendukung transisi energi di Kepri,” katanya.
Dengan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk dukungan global, Kepulauan Riau diharapkan mampu menjadi pintu gerbang energi bersih di Indonesia, sekaligus berkontribusi terhadap komitmen global menekan emisi karbon. (*)
Reporter : Juliana Belence
Editor : RYAN AGUNG