Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Dubai mencatat, Indonesia berhasil membukukan potensi transaksi sebesar 2,13 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp35,30 miliar untuk produk makanan ringan dan kembang gula, dalam pameran Internationale Sußwarenmesse Middle East (ISM Middle East), di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan, partisipasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi produk makanan ringan dan kembang gula Indonesia di pasar internasional.
”Pasar UEA yang besar sangatlah menjanjikan karena didorong oleh populasi multikultural, permintaan konsumen muda akan inovasi produk dan rasa, tren gaya hidup sehat, pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata, serta keberadaan ritel luring dan daring,” ujar Puntodewi dalam keterangan di Jakarta, Selasa (23/9).
Menurut Puntodewi, posisi strategis Dubai sebagai hub perdagangan global menjadikannya pintu gerbang ideal untuk mendistribusikan produk ke negara-negara Timur Tengah dan Afrika.
Konsul Jenderal RI Dubai, Denny Lesmana, menyebutkan, Dubai saat ini merupakan hub perdagangan global karena keunggulan strategis dalam hal lokasi, keterbukaan akses perdagangan, kemudahan regulasi bisnis dan maraknya insentif usaha dari pemerintah, serta infrastruktur jasa yang terbangun dengan sangat baik.
”Kebijakan kepemilikan asing hingga seratus persen dalam berusaha tanpa perlu adanya mitra lokal juga menjadi daya tarik tersendiri yang membuat roda perekonomian UEA berputar cepat dan membuat persaingan menjadi sangat kompetitif,” kata Denny.
Dalam pameran ini, Indonesia menghadirkan enam pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang berani berinovasi. Adapun produk yang dihadirkan antara lain permen, cokelat, camilan tradisional, hingga makanan sehat yang siap bersaing.
Selain memfasilitasi keikutsertaan di pameran, Kemendag juga memfasilitasi UMKM dalam sesi penjajakan bisnis (business matching) dengan calon pembeli di luar negeri.
Kepala ITPC Dubai Widy Haryono mengatakan, business matching yang dikoordinasikan ITPC Dubai penting untuk membangun merek produk makanan dan kembang gula Indonesia.
”Mengikuti business matching ini sangat penting untuk membangun kesadaran konsumen akan kualitas serta keanekaragaman produk makanan ringan dan kembang gula Indonesia yang diproduksi sesuai standar internasional,” kata Widy.
Widy menekankan, pasar UEA menjadi semakin menjanjikan bagi produk Indonesia sejak berlakunya Indonesia-UAE Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE CEPA) per 1 September 2023.
Perjanjian tersebut menjadikan tarif masuk produk makanan ringan dan kembang gula Indonesia ke UEA menjadi nol persen. Selain itu, status Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang telah diakui kredibilitas sertifikasi halalnya di berbagai negara turut menjadi kunci utama penunjang keberhasilan ekspor produk makanan ringan dan kembang gula Indonesia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY