Buka konten ini


TANJUNGPINANG (BP) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kepulauan Riau kembali menuai sorotan. Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih serius menjaga kualitas makanan, setelah muncul temuan hewan di dalam kotak MBG yang diterima siswa sekolah di Batam.
“Waktu saya cek di Karimun, dapur MBG juga masih dimasuki lalat. Itu saya tegur, karena berbahaya,” kata Ansar, Selasa (23/9).
Ansar menekankan, setiap ahli gizi dan ketua SPPG wajib memastikan kondisi makanan benar-benar aman sebelum disalurkan, baik untuk pelajar maupun ibu hamil penerima MBG. Menurutnya, dapur program ini harus steril untuk mencegah risiko penularan penyakit.
“Usahakan ada jaring di setiap celah pintu maupun lubang angin supaya lalat tidak masuk ke dapur. Kalau lalat masuk, bisa meninggalkan kotoran yang membahayakan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, pembangunan dapur MBG harus mengikuti standar Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan begitu, kebersihan dan sirkulasi udara terjaga, serta makanan yang dibagikan benar-benar aman dikonsumsi.
“Pembangunan dapur harus sesuai aturan BGN agar kualitas makanan lebih terjamin,” ujarnya.

Pedagang Kantin Sekolah Ikut Terimbas
Di sisi lain, pelaksanaan MBG juga membawa dampak baru di lapangan. Di Kecamatan
Seri Kuala Lobam, program yang baru berjalan lima hari mulai membuat pedagang kantin sekolah kelimpungan.
Romi, pedagang di kantin SDN 006 Seri Kuala Lobam, mengaku dagangannya kini sepi pembeli. Sebelumnya, ia bisa menjual nasi liwet seharga Rp2.000 per porsi dengan penghasilan Rp60 ribu per hari. Namun sejak MBG hadir, nasi liwetnya tak laku lagi.
“Anak-anak sudah dapat makan gratis. Saya berhenti jual nasi, sekarang hanya jual kue, sosis bakar, dan minuman. Penghasilan pun turun, biasanya bisa Rp100 ribu lebih, sekarang hanya puluhan ribu,” keluhnya.
Radiah, pedagang lain di sekolah tersebut, juga merasakan hal serupa. Setiap hari ia membawa sekitar 20 porsi nasi dan 15 porsi bubur sumsum. Kini dagangan itu nyaris tak tersentuh.
“Dulu anak-anak cari nasi dan bubur. Sekarang sudah kenyang dari MBG, jadi dagangan tidak laku. Penghasilan saya yang tadinya bisa Rp100 ribu sehari, sekarang tinggal puluhan ribu,” ujarnya.
Radiah berharap pemerintah memberi perhatian bagi pedagang kecil yang ikut terdampak.
Sementara itu, seorang siswa penerima MBG di sekolah tersebut mengaku tidak lagi membawa bekal dari rumah. Meski begitu, ia masih mendapat uang jajan Rp3.000 per hari dari orangtuanya untuk membeli jajanan ringan.
Puskesmas Lakukan Pengecekan
Di tengah sorotan permasalahan MBG di sejumlah daerah di Provinsi Kepri, Puskesmas Teluk Sasah menggelar inspeksi langsung ke dapur SPPG di Kecamatan Seri Kuala Lobam. Kepala Puskesmas, dr Kurniawan, menyebut pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi, terutama terkait penanganan bahan makanan dan tempat sampah. “Tempat sampah yang terbuka bisa mengundang lalat. Lalat bisa bertelur di makanan,” katanya.
Ia mengingatkan, makanan yang terkontaminasi dapat menimbulkan berbagai penyakit. Karena itu, SPPG diminta memastikan tempat sampah selalu tertutup rapat dan menjaga kebersihan lingkungan dapur.
Selain mengecek dapur, petugas juga memeriksa kondisi makanan. Hasilnya, makanan dinilai aman dikonsumsi. Meski begitu, Kurniawan mengingatkan soal waktu pengemasan dan pengiriman.
“Pengemasan hingga pengiriman tidak boleh lebih dari empat jam. Kalau lebih, makanan berisiko bau karena uap dari makanan,” jelasnya.
Namun, saat pengecekan berlangsung, pihaknya tidak menemukan adanya makanan bermasalah.
“Tidak ditemukan (makanan bau) saat kami di sana,” pungkasnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO