Buka konten ini

2. Tukang ojek mengangkut hasil pertanian melewati jalan alternatif (para-para) di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
3. Seorang tukang ojek bersama anaknya duduk di depan rumahnya di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
4. Warga menumbuk buah kopi untuk melepaskan kulitnya di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
SUARA knalpot brong meraung memecah kesunyian. Para tukang ojek memacu motornya yang telah dimodifikasi. Menerobos jalan tanah yang berkubang lumpur. Menyusuri hutan dan perbukitan. Menguras tenaga demi menjaga keseimbangan. Memastikan kuda besi mereka tetap berdiri tegak. Setegak harapan untuk sampai di tujuan dengan selamat.
Berkali-kali mereka harus berhenti di jalan. Memperbaiki kerusakan motor atau sekedar meregangkan otot di warung makan sambil menyeruput secangkir kopi. Mereka selalu jalan berkelompok agar bisa saling membantu saat ada kendala selama perjalanan karena beban barang yang mereka bawa dapat mencapai 200 kilogram.
Setiap hari, puluhan hingga seratusan tukang ojek berjibaku dengan jalan ekstrem guna memacu roda perekonomian di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Para tukang ojek berjuang dengan gigih untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan sandang pangan dan papan bagi sekitar 14.399 jiwa penduduk Kecamatan Seko yang tersebar di 12 desa. Selain itu, mereka juga mengangkut hasil pertanian warga untuk dijual ke kota.
Kecamatan Seko yang berada di ketinggian 1.200 – 1.800 meter di atas permukaan laut itu, memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.
Seperti pada sektor pariwisata dan peternakan dengan hamparan sabana yang luas. Juga sektor pertanian yang didominasi oleh budidaya tanaman padi khas Seko, kakao dan kopi.
Semua potensi tersebut belum bisa dikembangkan secara maksimal akibat akses transportasi keluar dan masuk ke daerah itu belum memadai.
Pemerintah telah berupaya meningkatkan infrastruktur jalan ke daerah itu. Hingga tahun 2024, akses jalan beraspal telah sampai di wilayah Kecamatan Seko.
Namun, akses tersebut belum menjangkau perkampungan atau permukiman warga sehingga akses penghubung antardesa masih berupa jalan tanah.
“Kalau mobil itu bisa seminggu hingga sebulan baru bisa tembus. Padahal jaraknya Palandoang ke Lambiri cuman sekitar 13 kilometer. Apalagi kalau sudah masuk puncak musim hujan, terkadang ada tukang ojek bermalam di jalan karena tambah parah itu jalanan.” ungkap Muhammad Rapil, warga Desa Embonatana yang berprofesi sebagai tukang ojek.
Sulitnya akses jalan membuat tarif ojek dari Masamba ke daerah itu mencapai Rp500 ribu-Rp700 ribu per orang. Begitu juga dengan barang dikenakan tarif rata-rata Rp5.000 per kilogram.
Hal tersebut berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok di daerah itu dengan kenaikan rata-rata 50 persen hingga 200 persen dibandingkan harga barang di kota. (*)
Reporter : ANTARA
Editor : AGNES DhAMAYANTI