Buka konten ini

ISTANBUL (BP) – Ketegangan antara Turki dan Israel semakin meningkat di tengah serangkaian insiden serta retorika keras. Dilansri dari Aljazeera, serangan Israel terhadap Qatar pekan lalu memicu spekulasi bahwa Turki bisa menjadi sasaran berikutnya.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan bahwa Israel hendak memperluas wilayah dengan gagasan akan membentuk Israel Raya. Wilayah yang akan dijadikan Israel Raya mencakup Suriah, Lebanon, Mesir, dan Yordania. Gagagasan ini bertujuan untuk menjaga negara-negara di sekitarnya tetap lemah dan terbagi.
“Ada dua alasan di balik ekspansi Israel. Pertama, memperbesar wilayah demi mewujudkan Israel Raya. Kedua, memastikan negara-negara di sekitar tetap lemah, terpecah, dan tidak efektif,” kata Hakan Firdan.
Turki kemungkinan menjadi target berikutnya Israel. Dia mengatakan bahwa Turki tidak boleh hanya mengandalkan keanggotaannya di NATO sebagai perlindungan.
Turki telah menangguhkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Israel pada Agustus. Negara itu juga memperkuat sistem pertahanan udara, kemampuan intelijen, dan berusaha menjalin koalisi regional dengan Qatar, Yordania dan Irak untuk memperkuat posisi strategisnya.
Turki merasa khawatir atas upaya Israel untuk memperluas pengaruh militer dan intelijen di Mediterania Timur, termasuk melalui kerja sama Israel, Siprus dan Yunani. Hal ini dianggap oleh Turki sebagai strategi Israel untuk memblokade atau membatasi kebebasan maritim Turki.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan yakin terhadap keberhasilan ekspansi Israel Raya. ”Tentu saja (saya yakin),” ujar Netanyahu.
Erdogan dan Netanyahu Berebut Prasasti Siloam
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Neyanyahu berebut Prasasti Siloam peninggalan Kekaisaran Utsmaniyah. Dilansir dari AFP, Netanyahu mengungkap upayanya untuk membawa pulang artefak tersebut. Namun, Erdogan menolaknya.
“Yerusalem adalah kehormatan, martabat, dan kemuliaan seluruh umat manusia dan umat Islam. Tapi dia dengan tanpa malu terus mengejar prasasti itu. Kami tidak akan memberimu prasasti itu, bahkan tidak sebutir kerikil pun dari Yerusalem,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jumat (19/9).
Prasasti Siloam adalah artefak berbahasa Ibrani yang dipahat pada sekitar abad ke-8 SM. Awalnya ditemukan pada tahun 1880 di dalam Terowongan Siloam di Yerusalem, saat wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Utsmaniyah.
Sementara itu, Netanyahu mengatakan bahwa Prasasti Siloam merupakan salah satu penemuan arkeologis paling penting bagi negara itu setelah Gulungan Laut Mati.
Netanyahu mengungkapkan bahwa pada tahun 1998 ia pernah mengajukan proposal kepada Turki untuk pertukaran artefak artefak Ottoman milik Israel sebagai kompensasi agar prasasti tersebut bisa dikembalikan. Namun, Turki menolak tawaran tersebut. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO