Buka konten ini

Di tengah zaman modern saat ini, muncul sebuah teknik seni yang unik dan penuh makna yaitu ecodrawing. Teknik ini memadukan sumber kekayaan alam dengan sentuhan tangan manusia, menghasilkan karya seni sekaligus kerajinan tangan yang estetik ramah lingkungan.
DI tangannya, daun ketapang bukan sekadar guguran yang ditiup angin. Kulit pohon pun tidak lagi hanya sampah yang terlepas dari batang. Semua itu bisa menjadi palet warna alami, bahkan karya seni yang menyimpan ruh alam.
Muhammad Firdaus (39), seniman asal Pulau Bintan, yang memilih jalan berbeda dalam berkarya. Saat dunia seni modern kerap dipenuhi cat minyak, akrilik, hingga digital painting, ia justru menghadirkan teknik ecodrawing seni menggambar dengan memanfaatkan daun, bunga, kulit, hingga akar pohon sebagai media dan sumber warna. “Harapan kami, ecodrawing bisa jadi identitas seni baru di Bintan.
Sekaligus mengajak generasi muda peduli alam lewat karya seni,” tutur Firdaus saat ditemui Batam Pos, Minggu (21/9).
Sentuhan Alam di Setiap Coretan
Bagi Firdaus, seni bukan semata urusan estetika visual. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai ruang untuk menyampaikan pesan. Dengan ecodrawing, ia ingin menunjukkan bahwa kekayaan alam bisa menjadi inspirasi sekaligus bahan baku seni tanpa harus dieksploitasi.
“Kalau kami biasanya pakai daun ketapang dan daun sirih. Daun ketapang bisa memunculkan warna hitam, kuning, hijau, hingga cokelat. Sementara daun sirih membuat lukisan lebih awet,” jelasnya.
Setiap daun, menurut Firdaus, punya pola urat berbeda yang tak akan pernah sama. Itulah yang membuat setiap karya ecodrawing unik dan orisinal.
Selain itu, ia juga memanfaatkan air tunjung, tawas, kapur, hingga cuka. Semua bahan kimia alami ini berfungsi sebagai tinta untuk mengeluarkan pigmen asli daun atau bunga dan mengikat warna di media seperti kertas, kain, atau baju.
Dari Lukisan ke Produk Kreatif
Karya Firdaus tidak berhenti pada kanvas. Teknik ecodrawing juga ia kembangkan ke berbagai kerajinan tangan: mulai dari tas kain, kaus, hingga hiasan dinding. Sentuhan alami inilah yang membuat setiap produk terasa eksklusif tak ada dua karya yang benar-benar sama.
Sejak akhir 2019, ia mendirikan Bintan Ecodrawing di Jalan Triwijaya, Toapaya Selatan, sebagai ruang produksi sekaligus tempat belajar. “Siapa saja bisa datang, belajar melukis, sekaligus mengenal jenis daun dan bunga di sekitar mereka,” kata lulusan Administrasi Publik itu.
Karya-karya ecodrawing Firdaus mulai mendapat perhatian. Tak hanya dilirik individu, karyanya juga sempat dipamerkan di sejumlah bazar dan event pariwisata di Bintan. Pesanan pun berdatangan, dari lukisan personal hingga produk dekorasi.
Pesan dari Sehelai Daun
Lebih dari sekadar seni, ecodrawing adalah gerakan kecil yang mengingatkan manusia tentang harmoni dengan alam. Dari sehelai daun dan sedikit kreativitas, lahirlah karya yang bukan hanya indah, tetapi juga menyatukan manusia dengan lingkungannya.
“Dengan semangat menjaga alam, ecodrawing ini bisa jadi simbol kreativitas berkelanjutan dari Bintan,” tutup Firdaus.
Kerajinan Tangan Kreatif Estetik
Seni ecodrawing adalah teknik lukis dengan memanfaatkan daun atau bunga dan kulit pohon hingga akar pohon, sebagai media, pola dan warna. Bahan-bahan dari alam ini ditempel, ditekan atau dijadikan cetakan di atas kertas dan kain atau baju, lalu dipadukan dengan goresan pensil dan tinta.
Lebih dari sekadar teknik menggambar atau melukis, seni ecodrawing kini berkembang menjadi kerajinan tangan yang kreatif estetik dan bernilai ekonomis. Hasilnya bukan sekadar gambar, melainkan visual yang menghadirkan kesegaran alami.
Selain karya seni yang estetik, karya seni ecodrawing juga menanamkan pesan ekologis. Dengan memanfaatkan bahan dari alam sekitar, siapa pun yang melihat karya seni ini akan diajak untuk lebih dekat dan menghargai lingkungan.
Selanjutnya dengan melihat karya seni ecodrawing, siapa saja akan menghargai sebuah karya seni yang mengajarkan bagaimana kekayaan alam dapat menjadi sumber inspirasi tanpa harus dieksploitasi.
Seni ecodrawing seperti sentuhan tangan manusia untuk mengabadikan jejak alam Ciptaan Yang Maha Kuasa. Tidak hanya menggambar atau melukis, tetapi juga membawa ruh dari daun atau bunga yang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, seni ecodrawing bukan sekadar tren seni, melainkan gerakan kecil untuk mengingatkan bahwa keindahan bisa hadir dari kesederhanaan dan kekayaan alam. Dari sehelai daun dan sedikit kreativitas tangan, lahirlah karya seni yang menyatukan manusia dengan alam. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG