Sabtu, 14 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Ungkap Pelajaran Berharga dari Buku The Let Them Theory Karya Mel Robbins

JAKARTA (BP) – Aktris dan musisi Maudy Ayunda membagikan refleksi pribadi usai membaca buku The Let Them Theory karya penulis dan motivator asal Amerika, Mel Robbins.
Melalui kanal YouTube miliknya, Maudy mengulas isi buku yang menurut dia relevan dengan keresahan banyak orang yakni overthinking, perbandingan diri, hingga rasa takut pada penilaian orang lain.

“Kadang kita capek sendiri karena terlalu mikirin sikap orang lain, sampai kehilangan kesempatan gara-gara takut sama opini,” ungkap Maudy.
Robbins dalam bukunya menekankan kesederhanaan prinsip let them. Biarkan orang lain bersikap, berkomentar, atau melangkah lebih dulu.

“Ada banyak hal dalam hidup yang sebenarnya tidak perlu kita jelaskan atau pertahankan. Biarkan saja. Let them go, let them dislike you, and let them think what they want,” tulis Robbins.
Insight pertama yang disorot Maudy adalah soal rasa iri dan perbandingan. Kuatnya pengaruh media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal karena terpapar pencapaian orang lain.

Namun menurut Robbins, rasa iri bukanlah sesuatu yang salah. Itu justru sinyal dari keinginan terdalam.

“Seringnya kita menyiksa diri dengan membandingkan timeline kita dengan orang lain. Padahal perjalanan tiap orang berbeda,” kata Maudy, mengutip isi buku.
Prinsip let them mengajak pembaca untuk membiarkan orang lain lebih dulu, sambil bertumbuh sesuai ritme diri sendiri.

Belajar Melepas
Insight kedua adalah tentang pertemanan yang berubah seiring waktu. Robbins menyebut fenomena ini sebagai the great scattering. Saat memasuki fase hidup baru seperti kuliah, pekerjaan, atau keluarga, lingkaran pertemanan pun ikut bergeser.

“Kadang kita sedih merasa ditinggalkan, padahal itu proses alami. Bukan penolakan, tapi perjalanan masing-masing,” jelas Maudy.
Robbins menegaskan tiga hal yang menjaga pertemanan yakni kedekatan fisik, kesamaan fase hidup, dan energi yang selaras. Jika ketiganya berubah, wajar bila hubungan ikut berubah.

Hidup Bukan Ajang Persetujuan
Insight ketiga, yang menurut Maudy paling menohok, adalah soal ketakutan dinilai orang lain. Dalam bukunya, Robbins menyebut, trying to control what others think is a full-time job with no paycheck.

Selama ini banyak orang terjebak dalam keinginan terlihat cukup dan diterima, padahal komentar atau penilaian orang tidak akan pernah berhenti.
“Let them judge. Selama kita tahu arah dan niat kita, lanjutkan saja,” tutur Maudy.
Apa yang bisa dilakukan? Maudy mengajak pembaca melakukan refleksi. Dimulai dengan menuliskan daftar hal yang tertahan hanya karena takut dinilai. Lalu bertanya pada diri sendiri, apa yang akan dilakukan jika tidak ada yang menghakimi?

Maudy menutup ulasannya dengan satu kutipan yang disebut sangat membekas.
“There is enough happiness, success, and money to go around for everybody, including you. It’s in limitless supply,” ucap Maudy.
Menurut dia, pesan buku ini sederhana namun kuat. Kebahagiaan dan keberhasilan tidak terbatas, dan setiap orang punya jalannya masing-masing. (*)

Reporter : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol