Buka konten ini

Suara khas bambu bergetar lembut saat tangan-tangan lincah memainkan nada dari alat musik tradisional asal Jawa Barat (Jabar) yaitu angklung. Nuansa khas Sunda dan harmoni pun tercipta di setiap sudut jalanan di Kepulauan Riau (Kepri).
DI sudut jalan, halaman kedai kopi, hingga ke pemukiman masyarakat, sekelompok anak muda asal Cirebon, Jawa Barat, tampil sederhana namun penuh semangat. Para pemuda ini menamakan diri ’Grup Angklung’. Grup musisi jalanan yang membawa serta identitas budaya daerahnya ke tanah rantau.
Datang jauh dari daerah di Cirebon Jabar, rombongan seniman musik jalanan yang beranggotakan enam orang ini, telah berkeliling dari Tanjungpinang, Batam, dan Tanjung Balai Karimun. Bahkan hingga ke Kalimantan.
Tujuan grup musisi jalanan ini bukan semata mencari rezeki dari lantunan musik jalanan, melainkan juga memperkenalkan angklung sebagai musik tradisional warisan budaya tanah Sunda kepada masyarakat luas.
”Selain mencari rezeki, kami juga ingin mengenalkan musik tradisional dari Jawa Barat,” kata Jayudi, koordinator Grup Angklung.
Selain itu, Grup Angklung juga memadukan alat musik tradisional dan alat musik modern. Selain mengandalkan instrumen bambu, beberapa personel grup, juga membawa drum mini, cajon, dan gendang.
Musik yang dimainkan pun beragam. Mulai dari lagu-lagu daerah Sunda, tembang pop Indonesia, hingga lagu Barat. Musik-musik itu diaransemen ulang dengan sentuhan khas angklung sehingga memunculkan nuansa tradisi dan harmoni.
Masyarakat yang melintas di jalanan, kadang kerap berhenti sejenak. Tidak jarang ikut bernyanyi dan bersenandung atau sekedar merekam penampilan Grup Angklung yang beraksi dengan ponsel.
“Kami ingin menunjukkan bahwa alat musik ini juga bisa hadir di jalanan, dekat dengan masyarakat dan tetap indah didengar,” ujar Jayudi.
Bagi Grup Angklung, perjalanan ke Kepri dan ke daerah lainnya adalah bagian dari perjuangan hidup sekaligus membawa misi untuk memperkenalkan alat musik angklung kepada khalayak ramai.
Tidak hanya itu, Grup Angklung mengamen untuk biaya perjalanan, tempat tinggal, makan dan kebutuhan sehari-hari. Namun di saat bersamaan, tetap menjalankan tanggung jawab melestarikan tradisi dan budaya Jawa Barat.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau bawa angklung keluar kampung. Kami bangga bisa kenalkan alat musik ini sampai ke pulau-pulau,” ungkap Jayudi.
Kehadiran Grup Angklung di Kepri khususnya Tanjungpinang, menjadi warna baru di tengah keberagaman musik jalanan, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa warisan tradisi tidak boleh hilang ditelan zaman. Pada setiap akhir penampilannya, Grup Angklung selalu mengucapkan salam sederhana: “Hatur nuhun, terima kasih. Salam budaya dari Cirebon untuk Kepri.” Ucapan itu seakan menjadi pengikat, bahwa di balik musik bambu yang sederhana, tersimpan misi besar: menyatukan masyarakat lewat harmoni tradisi.
“Kami bukan sekadar mengamen, tapi juga menjadi duta budaya dan tradisi Jawa Barat yang berjuang di jalanan,” jelas Jayudi.
Harmoni yang Menyatukan
Kehadiran Grup Angklung asal Cirebon di Kepri ternyata mendapat apresiasi dari seniman Sunda yang berdomisili di Tanjungpinang. Grup Angklung telah melakukan langkah sederhana yang punya makna besar dalam menjaga eksistensi budaya dan tradisi Sunda.
“Kami bangga dan memberi apresiasi melihat anak-anak muda dari Cirebon datang jauh-jauh ke Kepri hanya untuk memainkan angklung. Kami juga mengajak mereka untuk kolaborasi,” kata Hamas Muslim Suni, Sekretaris Sanggar Sauyunan Tanjungpinang.
Grup Angklung, kata Suni, bukan sekadar mengamen dan mencari rezeki halal, tapi sekaligus membawa pesan budaya bahwa angklung ini milik bersama dan harus terus dikenalkan kepada masyarakat luas.
Menurut Suni, angklung sering dipandang hanya sebatas alat musik tradisional Jawa Barat yang dimainkan di sekolah atau acara formal. Padahal, instrumen bambu ini bisa dibawa ke ruang publik dan dinikmati siapa saja.
Di tangan musisi jalanan itu, lanjut Suni, angklung jadi terasa hidup dan dekat dengan masyarakat. Menurutnya budaya akan bertahan jika bisa hadir di tengah kehidupan sehari-hari, bukan hanya di panggung resmi.
”Sebagai orang Sunda yang tinggal di tanah Melayu, kami wajib mengenalkan angklung kepada masyarakat Kepri,” jelas seniman Sunda asal Bandung ini.
Suni menekankan, untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan tradisi dan budaya Sunda di Tanjungpinang, ia bersama rekan sesama seniman Sunda lainnya, sering memainkan angklung yang dipadukan dengan musik Melayu.
Perpaduan itu, lanjut Suni, menciptakan nuansa tradisi budaya yang khas. Sekaligus menciptakan sebuah harmoni musik yang menyatukan dan indah untuk didengarkan.
”Kami punya rencana mau gelar instrumental musik, semua alat musiknya dari bambu untuk pembacaan Gurindam 12 dengan nuansa sakral dan melibatkan anak-anak dan seniman muda Tanjungpinang,” ungkapnya.
Suni menambahkan, selama bambu masih ada, angklung harus tetap berbunyi sebab angklung merupakan pengingat agar masyarakat Sunda tidak melupakan akar budaya sendiri.
”Jadi sebagai orang Sunda yang kini tinggal di Tanjungpinang, kami tidak akan melupakan budaya sen-diri dan kami tetap menghormati budaya Melayu,” tutupnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG