Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Badan Gizi Nasional (BGN) bukan hanya menghadapi isu dugaan keracunan, tetapi juga sorotan soal nampan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi di Tiongkok. Nampan itu disebut berpotensi tercemar minyak babi dalam proses pembuatannya.
Ketua PW Rabithah Ma’had Islamiyah Nahdlatul Ulama (MRI-NU) DKI Jakarta, Rakhmad Zailani Kiki, menilai persoalan ini serius. Menurutnya, pencucian mungkin bisa menghilangkan najis, tetapi dikhawatirkan minyak babi sudah terserap ke pori-pori bahan nampan.
“Produsen luar negeri yang untung, sementara kita di sini yang repot mencucinya,” ujar Rakhmad, Jumat (19/9).
Ia menegaskan, Indonesia sebenarnya memiliki banyak produsen nampan yang bebas dari unsur haram. Tercatat delapan perusahaan telah mengantongi sertifikat halal BPJPH, dan sekitar 25 perusahaan lainnya siap mengurus sertifikasi.
“Kalau pemerintah berkomitmen pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang ingin membuka lapangan kerja, seharusnya melibatkan industri dalam negeri, bukan mengimpor,” tambahnya.
Rakhmad juga menyambut rencana Kementerian Perdagangan yang akan menerapkan aturan wajib SNI untuk nampan MBG. Menurutnya, material terbaik adalah stainless steel 201 dengan kadar mangan di bawah 2 persen.
Sebaliknya, bahan stainless steel 304 yang banyak beredar justru dianggap kurang ideal karena kandungan mangan yang tinggi.
Hasil Pertemuan dengan MUI
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengadakan rapat bersama BGN pada 29 Agustus lalu. Pertemuan itu juga dihadiri BPOM, BPJPH, BSN, ALPHI, Apmaki, hingga Aspradam.
Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh, menyebutkan forum tersebut menghasilkan lima kesepakatan. Salah satunya, dukungan penuh terhadap program MBG karena dinilai penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Namun, ia menegaskan bahwa dukungan itu harus diiringi penerapan prinsip halal dan thayyib. Jika ada indikasi ketidakhalalan, perlu dilakukan verifikasi, pencegahan, hingga penindakan.
“Semua aspek harus dijaga kehalalannya, mulai dari makanan, peralatan makan, hingga rantai pasoknya,” kata Ni’am. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO