Buka konten ini

HARGA cabai, sayuran hijau, hingga ikan di pasar-pasar tradisional Kota Batam melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat pembeli dan pedagang sama-sama mengeluh, sebab daya beli masyarakat kian tertekan.
Di Pasar Vitoria, Sekupang, seorang pedagang cabai, Nisa, menyebut harga cabai merah kini mencapai Rp88 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram (setara Rp22–25 ribu per seperempat kilogram). Cabai hijau dijual Rp68 ribu per kilogram, cabai rawit Rp60 ribu per kilogram, bawang Jawa Rp60 ribu per kilogram, dan bawang Birma Rp28 ribu per kilogram.
“Semua naik. Kangkung sekarang Rp22 ribu per kilogram, biasanya hanya Rp12 ribu. Bayam juga ikut naik sampai Rp25 ribu per kilogram. Karena mahal, saya tidak berani ambil stok banyak,” kata Nisa, Kamis (18/9).
Fenomena serupa juga terjadi di Pasar Sungai Harapan, Sekupang. Anwar, pedagang setempat, menyebut harga cabai merah bahkan menembus Rp100 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat banyak pembeli batal membeli setelah mendengar harga.
“Banyak yang tanya, tapi begitu kita bilang Rp25 ribu seperempat, mereka langsung pergi. Padahal modal kami juga sudah tinggi. Jadi kami terjepit, mau jual murah rugi, jual sesuai modal pembeli kabur,” ungkap Anwar.
Selain cabai, harga sayuran lain juga ikut terkerek. Pedagang terpaksa mengurangi stok karena khawatir tidak laku.
“Sayur naik semua, jadi kita ambil sedikit-sedikit saja,” tambah Anwar.
Kenaikan harga juga terjadi pada ikan segar. Ikan tongkol yang sebelumnya Rp30 ribu per kilogram kini dijual Rp40 ribu. Lonjakan ini semakin menambah beban masyarakat, sebab kebutuhan pokok tidak bisa ditunda.
Sejumlah pedagang menduga kenaikan harga dipicu cuaca buruk yang memengaruhi pasokan, serta distribusi barang dari luar daerah yang tersendat. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan agar harga kembali stabil.
“Kalau terus seperti ini, pembeli makin susah, pedagang juga makin berat,” kata Nisa.
Hal serupa juga terjadi di Pasar Toss 3000 Lubukbaja. Harga cabai merah sudah berada di atas Rp85 ribu per kilogram. Adi, salah seorang pedagang yang memiliki warung untuk berjualan bahan dapur eceran yang biasanya berbelanja ke Pasar Toss 3000, mengaku tak berani berbelanja banyak karena naiknya harga-harga tersebut.
”Naik semua, saya hanya beli 1 kilogram cabai merah besar untuk dijual di warung. Kalau sayuran hijau, saya tak berani ambil (beli) karena harganya mahal banget,” kata Adi, warga Batuampar.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau, memastikan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi lonjakan harga. Dua langkah utama segera ditempuh, yakni menggelar operasi pasar dan melakukan pembelian langsung cabai dari daerah penghasil di Sumatra Utara.
“Kami akan bekerja sama dengan tiga daerah, yaitu Simalungun, Tapanuli Utara, dan Bandar Meriah. Insyaallah tanggal 18 September, Pemko Batam bersama pengusaha cabai akan ke Simalungun untuk melakukan pembelian langsung semua jenis cabai,” ujar Gustian.
Ia menyebut, cuaca menjadi faktor dominan yang memicu kenaikan harga. Tingginya curah hujan membuat cabai cepat busuk, terutama saat proses pengiriman menuju Batam.
“Cuaca sangat berpengaruh. Kalau hujan tinggi, cabai bisa cepat rusak. Apalagi waktu tempuh ke Batam tidak sebentar,” jelasnya.
Selain menjalin kerja sama pasokan, Disperindag juga telah menggelar operasi pasar pada 15–17 September di enam kecamatan: Batuaji, Sagulung, Sungaibeduk, Batuampar, Nongsa, dan Lubukbaja. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK