Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, sudah enam bulan menyalurkan makanan bergizi gratis (MBG) kepada 557 pelajar. Namun, hingga kini dapur pengolahan makanan tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Anambas.
Padahal, SLHS menjadi syarat utama agar dapur produksi makanan dinyatakan aman beroperasi. Tanpa sertifikat ini, risiko keracunan akibat makanan tidak bisa dikesampingkan.
“Iya benar, mereka belum punya SLHS. Selama ini tidak ada koordinasi dengan kami, sejak awal membangun dapur hingga sekarang sudah berjalan,” ungkap Staf Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Anambas, Sofiani Srilagogo, Kamis (18/9).
Selain belum memiliki SLHS, dapur SPPG Air Asuk juga belum pernah menjalani Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang berfungsi menilai kelayakan bangunan serta pengelolaan limbah.
“Puji Tuhan, sampai sekarang memang tidak ada kasus keracunan seperti di daerah lain. Tapi kalau sampai terjadi, pasti kami yang disalahkan. Padahal mereka selama ini tertutup, bahkan dengan Puskesmas Siantan Tengah pun tidak terbuka,” tegas Sofiani.
Dinkes Anambas kemudian memanggil pengurus SPPG Air Asuk setelah Badan Gizi Nasional (BGN) ikut menyoroti persoalan ini. Hasilnya, pengurus berjanji segera mengurus SLHS dan menjalani inspeksi IKL paling lama pekan depan.
“Prosesnya akan disejalankan dengan pelatihan untuk tim produksi. Tim sanitasi dari Dinkes yang akan turun langsung menilai kebersihan dapur, penyimpanan bahan, hingga proses produksinya,” jelas Sofiani.
Ia menegaskan, aturan ini dibuat bukan untuk mempersulit, melainkan untuk melindungi pelajar dari risiko keracunan maupun penyakit akibat makanan.
Meski demikian, Dinkes tetap mengapresiasi sikap pengelola SPPG Air Asuk yang bersedia melengkapi seluruh persyaratan. “Harapan kami, mereka segera memenuhi semua izin agar program makanan bergizi bisa berjalan aman dan benar-benar bermanfaat,” katanya.
Program MBG sendiri merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan gizi anak sekolah, khususnya di daerah terpencil. Karena itu, aspek keamanan pangan menjadi prioritas mutlak. Dinkes Anambas memastikan pengawasan akan diperketat terhadap seluruh dapur MBG agar kasus serupa tidak terulang.
Orangtua Murid Khawatir
Kabar dapur MBG Air Asuk belum berizin membuat sejumlah wali murid terkejut. Jaka, salah seorang orangtua pelajar, mengaku cemas setelah mengetahui dapur belum mengantongi SLHS maupun IKL.
“Parah ya, selama ini kita tidak tahu kualitas produksinya seperti apa. Apakah bahannya steril, masih bagus, atau malah sudah tidak layak konsumsi,” ujar Jaka, salah satu orangtua murid.
Ia juga menyoroti penggunaan wadah plastik pada awal program MBG. Padahal, BGN sudah menganjurkan wadah berbahan aluminium.
“Dari awal saja sudah bikin ragu. Baru setelah Iduladha wadah aluminium dipakai, itu pun setelah beberapa minggu,” ucapnya.
Jaka berharap pemerintah dan aparat hukum turun tangan. “Kami orangtua tidak mau ribut, tapi ini soal keselamatan anak-anak. Jangan sampai keracunan gara-gara dapur belum punya sertifikat resmi,” katanya.
Polisi Ikut Pantau
Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, membenarkan pihaknya sudah menerima laporan masyarakat terkait persoalan ini.
“Terima kasih atas informasinya. Kami akan pelajari dulu, lalu tim akan turun langsung ke dapur MBG Air Asuk untuk memastikan kondisinya,” ujarnya.
Kapolres menegaskan, program MBG seharusnya memberi manfaat dan rasa aman bagi pelajar. “Program ini kan untuk anak-anak kita. Jangan sampai menimbulkan rasa was-was, justru harus memberi tenang, sehat, dan semangat belajar,” katanya dengan nada humanis.
Sementara itu, Kepala SPPG Air Asuk, Jaya Saputra, enggan merespons konfirmasi yang dilayangkan Batam Pos, baik lewat pesan WhatsApp maupun panggilan telepon.
Sebelumnya, BGN juga menyoroti keberadaan dapur MBG Air Asuk yang beroperasi tanpa SLHS dan IKL sejak awal berdiri. Sertifikat itu sejatinya menjadi syarat mutlak agar makanan yang diolah aman dikonsumsi pelajar setiap hari. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO