Buka konten ini

BATUAMPAR (BP) – Proses pemulangan pekerja migran Indonesia (PMI) dari Malaysia ke Tanah Air kerap menimbulkan antrean panjang di pelabuhan. Salah satunya karena kewajiban registrasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) untuk ponsel yang mereka bawa.
Kepala Bea Cukai (BC) Batam, Zaky Firmansyah, menjelaskan pelayanan registrasi IMEI dilakukan di pelabuhan feri penumpang sebagai kawasan pabean. Di lokasi itu, impor barang penumpang mendapat fasilitas pembebasan hingga 500 dolar AS.
“Kalau di luar kawasan pabean, tidak diberikan pembebasan 500 dolar AS,” ujarnya, Kamis (18/9).
Zaky menegaskan, registrasi IMEI merupakan layanan kepabeanan oleh petugas Bea Cukai sebagai pelaksana aturan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
“Langkah yang kami lakukan adalah menyiapkan tiga konter khusus registrasi IMEI PMI dan satu konter untuk penumpang biasa,” katanya.
Ia merinci, ponsel pribadi dengan harga di bawah 500 dolar AS dibebaskan dari Bea Masuk (BM), PPN, dan PPh. Sementara ponsel dengan nilai di atas 500 dolar AS dikenakan BM 10 persen, PPN 11 persen, dan PPh 0 persen, setelah dikurangi pembebasan.
Namun, lanjutnya, jika ponsel tersebut bukan milik pribadi penumpang atau termasuk barang dagangan, maka pembebasan tidak berlaku. Barang tersebut dikenakan BM 10 persen, PPN 11 persen, dan PPh 5 persen.
Agar tidak terjadi penumpukan, Zaky meminta agar PMI mendata terlebih dahulu ponsel yang dibawa saat masih di Malaysia, lalu menginformasikan kedatangannya kepada petugas.
“Kami sangat berhati-hati, jangan sampai ada lagi indikasi praktik perjokian IMEI,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pelayanan, Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepri, Kombes Imam Riyadi, meminta layanan registrasi IMEI tersedia di shelter P4MI Batam. Menurutnya, hal itu untuk mengurangi antrean dan desakan PMI dengan penumpang umum di pelabuhan.
“Setiap kali ada pemulangan PMI deportasi, layanan IMEI ini sangat diperlukan. Banyak PMI membawa ponsel untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Kalau bisa, pengurusannya tidak lagi di pelabuhan, tetapi langsung di shelter P4MI,” ujarnya. (*)
Reporter : Yofi Yuhendri
Editor : RATNA IRTATIK