Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Angka anak putus sekolah di Tanjungpinang masih cukup tinggi. Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, menyebut jumlahnya mencapai 900 anak. Ironisnya, kondisi ini terjadi meski Tanjungpinang berstatus sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri.
Mayoritas anak putus sekolah itu berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. “Dengan program Sekolah Rakyat, anak-anak putus sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan. Apalagi kalau gedung baru selesai, kapasitasnya jauh lebih besar,” ujar Lis, Kamis (18/9).
Sekolah Rakyat (SR) Tanjungpinang dijadwalkan mulai beroperasi akhir September ini. Untuk tahap awal, kegiatan belajar mengajar akan berlangsung di bekas gedung SMP Negeri 15 yang telah direnovasi di Jalan Borobudur.
Namun, kapasitasnya masih terbatas. SR hanya bisa menampung 100 siswa dengan dukungan 19 guru.
Wakil Kepala SR Tanjungpinang, Heni Putri Ramadani, menjelaskan pembagian rombongan belajar terdiri atas dua kelas SD, dua kelas SMP, dan satu kelas SMA.
“Semua siswa wajib tinggal di asrama yang sudah disediakan. Sementara gurunya, sebagian besar berasal dari luar Tanjungpinang. Hanya empat orang yang lokal,” terang Heni.
Sebelum memasuki Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 30 September, seluruh siswa akan mengikuti tes kesehatan gratis.
Heni menambahkan, penggunaan gedung SMPN 15 hanya sementara. SR nantinya akan menempati gedung permanen di kawasan Madong, Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Gedung baru tersebut diproyeksikan mampu menampung hingga 1.000 siswa lengkap dengan fasilitas asrama.
“Kalau di Madong nanti, semua anak bisa ditampung, bahkan tinggal di asrama,” tegas Heni. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO