Buka konten ini
WASHINGTON (BP) – Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi melarang warga negara Tiongkok, meskipun memiliki visa sah, untuk terlibat dalam program antariksa mereka. Dilansir dari The Guardian, kebijakan yang kali pertama diungkapkan oleh Bloomberg News dan telah dikonfirmasi NASA itu merupakan bagian dari penguatan keamanan, fisik maupun siber, di tengah kekhawatiran meningkatnya kompetisi geopolitik di luar angkasa.
”NASA telah mengambil langkah internal terkait warga negara Tiongkok, termasuk membatasi akses fisik dan keamanan siber ke fasilitas, materi, dan jaringan kami untuk memastikan keamanan pekerjaan kami,” kata juru bicara NASA, Bethany Stevens, Selasa (16/9).
Sebelumnya Kontraktor dan Mahasiswa Penelitian
Sebelumnya, warga Tiongkok memang tidak dapat dipekerjakan sebagai staf tetap di NASA. Akan tetapi, mereka masih diperbolehkan menjadi kontraktor atau mahasiswa yang berkontribusi dalam penelitian. Namun, pada 5 September lalu, sejumlah individu mengaku tiba-tiba terkunci dari sistem teknologi informasi dan dilarang menghadiri pertemuan tatap muka. Mereka menyampaikan pengalaman itu dengan syarat anonim.
Persaingan ke Bulan
Langkah pembatasan itu muncul seiring meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam misi ke bulan. Program Artemis milik AS, yang merupakan kelanjutan dari pendaratan Apollo 1969–1972, menargetkan pendaratan pada 2027 meski menghadapi kendala biaya dan penundaan.
Sementara itu, Tiongkok menargetkan para astronotnya—dikenal dengan sebutan taikonaut—mendarat di bulan pada 2030.
”Kami sedang berada dalam perlombaan luar angkasa kedua saat ini. Tiongkok ingin kembali ke bulan sebelum kami. Itu tidak akan terjadi. Amerika telah memimpin di luar angkasa di masa lalu dan kami akan terus memimpin di masa depan,” tutur Penjabat Administrator NASA, Sean Duffy, dalam konferensi pers terkait penemuan rover di Mars.
Sampel Permukaan Mars
Ambisi Tiongkok tidak berhenti di bulan. Negeri Tirai Bambu juga berencana menjadi yang pertama membawa sampel dari permukaan Mars melalui misi robotik yang diluncurkan pada 2028 dan ditargetkan tiba di Bumi pada 2031.
Sebaliknya, pemerintahan Trump justru mengisyaratkan kemungkinan pembatalan proyek Mars Sample Return (MSR), kerja sama antara NASA dan Badan Antariksa Eropa. Anggaran terbaru bahkan mengusulkan agar misi tersebut digantikan dengan ekspedisi berawak, meski tanpa detail teknis yang jelas. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO