Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menampik isu bahwa dirinya mundur dari parlemen untuk menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Ia menegaskan, pengunduran dirinya tidak ada kaitannya dengan kursi kabinet, meski posisi Menpora masih kosong pascapencopotan Dito Ariotedjo.
Melalui unggahan di media sosial, politisi yang akrab disapa Sara itu menekankan, keputusannya murni dilandasi alasan pribadi dan bukan strategi untuk mengejar jabatan baru.
“Sejak 15 Agustus banyak hal terjadi. Mohon maaf baru bisa membagikan Laporan Kerja Masa Sidang IV. Dan ini sama sekali tidak berkaitan dengan jabatan Menpora. Kalau itu tujuan saya, tidak perlu mundur dari DPR RI,” tulisnya lewat Instagram, Senin (15/9).
Keponakan Presiden Prabowo Subianto tersebut menambahkan, peluang dirinya masuk kabinet sangat kecil.
“Selama Pak Prabowo jadi presiden, hampir mustahil saya masuk kabinet. Duduk di DPR saja—yang saya peroleh lewat pemilihan langsung dari rakyat—sudah dituduh karena keponakan. Apalagi kalau jadi menteri,” ujarnya.
Sebelumnya, Sara resmi menyatakan mundur dari DPR RI periode 2024–2029. Hal itu diumumkan lewat video pernyataan di akun Instagram pribadinya, Rabu (10/9).
Ia mengungkap, keputusan mundur diambil setelah pernyataannya dalam sebuah podcast menuai polemik. Dalam acara “Rahayu Saraswati Kupas Isu Perempuan hingga Kolaborasi Ekonomi Kreatif” yang ditayangkan Antara TV, sebuah potongan dari menit 25:37 hingga 27:40 dipersoalkan publik karena dianggap merendahkan perjuangan masyarakat kecil.
“Pernyataan saya sebenarnya lebih dari dua menit, tetapi hanya dipotong beberapa kalimat oleh pihak yang ingin memancing amarah masyarakat,” jelas Sara.
Sara menegaskan, dirinya tidak bermaksud menyepelekan perjuangan rakyat, khususnya generasi muda yang tengah berjuang merintis usaha.
“Tidak ada niat saya untuk meremehkan. Justru saya ingin mendorong semangat entrepreneurship. Tapi saya paham, kata-kata saya telah melukai perasaan banyak orang,” katanya.
Sebagai pengusaha yang pernah memimpin ratusan karyawan di industri event organizer hingga menjadi penasihat startup, ia mengaku memahami betapa sulitnya membangun usaha. Ia pun menyadari memiliki privilese yang tidak dimiliki banyak orang.
Atas kontroversi itu, Sara menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik dan memilih mundur dari parlemen.
“Dengan ini saya menyatakan pengunduran diri sebagai anggota DPR RI kepada Fraksi Partai Gerindra. Harapan saya, masih bisa menuntaskan satu tugas terakhir, yaitu pembahasan dan pengesahan RUU Kepariwisataan yang tengah dibahas di Komisi VII,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO