Buka konten ini


TANJUNGPINANG (BP) – Rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) kembali jadi sorotan. Meski sudah digagas sejak beberapa tahun lalu, hingga kini proyek dengan total panjang 14,74 kilometer itu masih sebatas wacana. Kapan dimulainya pembangunan pun belum ada kepastian.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, enggan berkomentar banyak ketika ditanya soal progres terbaru rencana pembangunan Jembatan Babin. “Saat ini progresnya masih berjalan. Nanti kan harus ada lelang dulu,” ujarnya kepada Batam Pos, Senin (15/9).
Ansar mengakui, sejumlah investor asing sudah menyatakan minat, termasuk perusahaan China Road and Bridge Construction (CRBC). Namun ia menegaskan, belum bisa memastikan keterlibatan mereka. “Belum tahu juga. Kan nanti kita akan lelang dulu,” katanya.
CRBC sendiri bukan nama baru di Indonesia. Perusahaan ini pernah terlibat dalam pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura.
Dari sisi teknis, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Kepri sebelumnya menyatakan Jembatan Babin layak dibangun. Klaim itu didasarkan pada survei kedalaman yang dilakukan selama hampir setahun penuh dan rampung pada Desember 2024 lalu.
Survei tersebut sempat menghadapi hambatan. Kabel listrik yang menghubungkan Batam-Bintan serta kabel optik bawah laut jalur Singapura-Jakarta menjadi kendala utama.
Karena itu, BPJN Kepri harus meminta izin pemerintah pusat sebelum melanjutkan survei. Total biaya survei ini menelan anggaran hingga Rp68 miliar.
Jembatan Babin digadang-gadang akan menjadi salah satu jembatan terpanjang di Indonesia dengan total panjang mencapai 14,6 kilometer. Bentangan utamanya direncanakan sepanjang 7,6 kilometer, menghubungkan Pulau Batam, Bintan, serta kawasan strategis lainnya. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO