Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kementerian Perindustrian bersama Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) proaktif melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing industri kerajinan hingga me-ngukuhkan eksistensinya di pasar global. Salah satu langkahnya adalah sosialisasi penguatan identitas merek (brand identity) bagi industri kecil dan menengah (IKM).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menjelaskan, kerajinan sebagai salah satu produk berbasis budaya memiliki ciri khas, nilai, prinsip, dan cerita yang menjadikannya unik dan diminati secara luas. “Kerajinan lokal karya para perajin di berbagai daerah di Indonesia tak lepas dari nilai budaya setempat dan dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia,” ungkapnya di Jakarta, Senin (15/9).
Oleh sebab itu, Ditjen IKMA secara konsisten melakukan upaya peningkatan strategi pemasaran, khususnya mengenai brand identity. Program penguatan identitas jenama pada IKM kerajinan salah satunya dilaksanakan melalui webinar untuk para pelaku IKM kerajinan.
”Identitas jenama pada IKM kerajinan diperlukan untuk menegaskan eksistensi dan ciri khas produk, usaha, perajin, dan secara tidak langsung karakter bangsa. Identitas jenama yang kuat mampu memberikan ikatan emosional pada konsumen sehingga menjadi salah satu strategi pemasaran yang ampuh,” papar Reni.
Pakar ekspor dari CBI Belanda Liena Mahalli mencontohkan kisah nyata salah satu merek fesyen di Eropa yang bermula dari toko kecil hingga berhasil menjadi brand global berkat identitas jenama yang kuat. ”Pentingnya IKM agar peka terhadap karakter dan kebutuhan pasar yang dituju, serta terus berinovasi dan adaptif seiring zaman,” ujar Liena.
Pendiri IKM Studio Dapur Mega Puspita menyoroti bagaimana identitas jenama mampu membantu IKM dalam menghadapi globalisasi. Mega berpesan agar IKM kerajinan selalu menjaga tradisi sekaligus terus berinovasi, sebagaimana dikatakannya ketika menutup sesi paparan narasumber, “Masa depan kerajinan Indonesia bukan soal memilih tradisi atau inovasi, namun perpaduan keduanya,” beber Mega. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG